Senin, 16 Desember 2013

Daun Tanpa Embun


Apa kamu tahu angin di pagi hari? Disana kamu bisa merasakan kesejukan tiada henti. Merambah ke wajah, tangan, dan kaki sampai ke pori-pori. Dingin. Namun begitu memikat untuk dirasakan kembali. Dia begitu menenangkan jiwa. Membuat kamu ingin menutup mata dan merasakan kesejukannya lebih dari yang kamu inginkan.

Ah. Aku merindukan kamu yang tak pernah ku ketahui lebih detail. Aku mengenalmu hanya dengan sebatas melihat. Memperhatikan kamu dari jauh. Mengetahui tawa renyahmu dari jarak sekian meter. Aku tak menegenalmu seperti daun dengan embun. Mereka begitu dekat. Setiap pagi selalu ada embun pada daun. Mereka tak pernah menjauh kala pagi datang. Daun dan embun saling mengenal. Saat pagi, tanpa embun sepertinya daun akan merasa sepi. Begitu juga dengan aku. Tanpa tawamu dan tanpa melihatmu semua terasa begitu memilukan. Kamu seperti senja yang selalu datang saat matahari menutup mata. Hanya sepersekian detik tapi begitu berarti untuk diamati dan dirasakan.

Senin, 11 November 2013

Ada Tanpa Diminta

Kadang kala saat bumi panas dibutuhkan hujan untuk mendinginkan, untuk menyegarkan, dan mengharumkan tanah.

Seperti ombak yang selalu menemani laut dimana pun laut berada. Ombak selalu ada untuk laut. Bagai langit, selalu ada yang setia terhadapnya. Kala pagi, siang, sore, bahkan malam. Langit selalu ada yang menemani dan tak pernah merasa sepi. Pagi, siang, dan sore selalu ada matahari yang mendampinginya. Kala malam langit pun juga tak sendiri. Ada bulan dan bintang yang tak mau beranjak dari sampingnya. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Satu pun dari mereka tak ada yang mampu untuk meninggalkan yang lain. Karena apa? Karena mereka sama-sama membutuhkan sekalipun tanpa diminta.

Seperti sekelompok orang yang rela menanjaki pegunungan hanya untuk mendapatkan satu keindahan saja. Ya, satu saja. Mereka rela menjajaki batu-batu besar, rela lelah, rela membuang keringat hanya untuk melihat matahari terbit. Penuh pengorbanan hanya untuk mendapatkan satu keindahan.


Seperti kamu, penikmat senja di tepian pantai. Tiap kali jarum menunjukkan pukul 4 sore, kamu buru-buru mengayuh sepeda tanpa henti. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah dan lekukan bibirmu. Sesampai di pantai, kamu tak bermain pasir, air laut, ataupun bermain sepak bola di tepi pantai. Tapi kamu hanya duduk. Diam memandang ke arah barat. Apa yang kamu lihat? Senja. Kamu rela menunggunya walau kamu hanya bisa menikmatinya sepersekian detik. Menunggu akan hal sederhana.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Merangkulmu Semampuku

“Gischa begitu baik. Dia manis. Sederhana tapi daya tariknya tak dapat tertutupi begitu saja,” paparnya penuh dengan kebahagiaan yang terpancar dari matanya.

Ada kesakitan saat perlahan kamu membeberkan semua hal tentangnya. Ada kesakitan saat kamu memujanya, terlebih saat kamu menyebut namanya. Bukan aku tapi Gischa . Mengertikah kamu dengan rasaku? Mungkin sebaiknya aku memprioritaskan kamu dibanding aku. Sebaiknya aku mendengarkan segala celotehmu walau bukan tentang aku. Dengan begitu setidaknya bisa disebut aku selalu ada untuk kamu, walau mungkin belum bisa disebut kamu ada untuk aku.

Sebisa mungkin aku membiarkan kesakitan menggerogoti jiwaku, bukan kamu. Biarlah luka tertanam bahkan tumbuh dengan jelas pada rasa yang sudah lama tumbuh terhadap kamu. Biarlah kamu bercerita tentangnya, setidaknya dengan itu aku bisa melihat kamu tersenyum, tertawa, terharu, bahkan memuja perempuan itu. Ya, perempuan yang ada disana. Bukan disebelahmu. Bukan aku.


Minggu, 13 Oktober 2013

Aku Menyebutnya Romi

Diam-diam. Mencoba berusaha sedikit demi sedikit tanpa tahu rasa malu. Tak memperhatikan bisikan negatif dari orang-orang sekitar yang mulai membekukan telinga. Perlahan, perlahan, dan perlahan. Berjalan pelan namun penuh kepastian. Berusaha terlebih dulu tanpa tahu bagaimana nantinya hasil yang akan didapat.

Aku memang bukan yang terbaik. Tapi aku selalu berusaha berposisi menjadi orang yang terbaik, untukmu. Aku memang tak sempurna, tapi dengan ketidaksempurnaan itu, aku menginginkan kamu dapat menjadi pelengkap dan membuat individu ini bisa dikatakan sebagai seseorang yang sempurna.

Berkali-kali putus asa, tapi masih mencoba untuk bangkit. Karena siapa? Karena kamu.

Tubuhku sering terpaku saat melihatmu. Tak mampu bergerak. Aku hanya mampu menunduk, kemudian menangis. Kapan aku dan kamu bisa menjadi kita?

Sebenarnya kamu begitu dekat. Tapi mengapa sangat sulit untuk digapai? Menyentuhmu saja aku tak kuasa. Apalagi jika harus memelukmu. Melihat. Dari jauh, bukan dari dekat. Seperti itulah yang bisa kulakukan.

“Kenapa menangis? Tahukah kamu bahwa sebenarnya aku seperti kamu? Aku juga sering memperhatikanmu, dari jauh. Dan sekarang aku baru berani untuk mendekat.”


Aku menghambur kearahnya. Memeluknya tanpa berani untuk melepaskan. Tak mau kehilangan dia, Romi.

Jumat, 11 Oktober 2013

Titipan Cerita Untuk TELKOM 2012

Kali ini saya hanya ingin sedikit berbagi cerita. Tak jauh-jauh dari kegiatan sehari-hari, teman, dan pastinya kuliah.

2012 kemarin saya menjadi mahasiswa Telekomunikasi di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Nama kampus saya terlalu panjang? Oke, sebut saja PENS atau EEPIS. Tapi walaupun namanya panjang, tak sebanding dengan panjang atau luas kampusnya. Oke, abaikan.

Setelah masuk di TELKOM, saya harus beradaptasi dengan baik disini. Untungnya saya adalah tipikal orang yang mudah bergaul. Jadi tidak begitu sulit untuk menyesuaikan dengan keadaan ataupun lingkungan yang ada. Lanjut lagi, selain kuliah saya disibukkan dengan hal lain, yaitu pengkaderan jurusan. Atau biasa disebut OPP atau OPJ. Awalnya mengikuti kegiatan seperti ini terasa berat. Tapi lambat laun saya mencoba untuk tidak mengeluh dan mencoba melihat dari sisi positif yang ada.

Lama-lama saya merasa nyaman dengan kondisi yang ada. Sudah terbiasa dengan segala kesibukkan yang setiap hari datang. Berbagai kegiatan saya ikuti bersama teman-teman yang lain. Salah satu manfaat kegiatan tersebut adalah agar kami mengenal satu sama lain dalam lingkup angkatan 2012, tetapi tak menutup kemungkinan agar kami bisa lebih dekat dengan kakak kelas. 


Senin, 30 September 2013

Kamu kah itu, Senja ?

Untuk kamu yang setiap hari ku nanti dalam terik senja.
Sering kali aku termenung, menunggu sebuah kepastian dan jawaban. Sedangkan kepastian dan jawaban itu adalah kamu, yang selama ini menghilang tak berbekas tanpa tahu pasti kapan akan kembali. Hanya untuk kamu ketahui, walaupun kamu menghilang tak berbekas, tapi kamu masih belum hilang dari syaraf-syarafku. Ah, bukan! Tepatnya tak akan hilang dari syaraf-syaraf ini.

Setiap sore datang, aku hanya mampu menunggumu di depan teras berteman cahaya sejuk senja di ufuk sana. Mengharapkan sebuah cerita manis dengan kedatanganmu, terpekik bahagia saat melihat kamu perlahan membuka pagar dan menghampiriku.

Senja tak akan pernah berhenti untuk membuat bumi tetap tersenyum
Cahaya jingganya tak akan pernah hilang, selalu memabukkan
Tak akan pernah pudar seperti sebuah perasaan yang tetap ditanam
Dan tak akan ada cerita usai dibalik cahaya senja


Sabtu, 21 September 2013

Bertahankah atau berlarikah?

Semua bermula begitu saja tanpa keinginan yang pasti dari dalam diriku sendiri. Merambat sebagai cerita pahit yang tak ada habisnya. Begitu menyesakkan dan masih belum menjadi sebuah kenikmatan yang pasti. Tak mau pergi apalagi bertahan. Lalu apa?

Sampai saat ini aku masih belum tahu. Bertahankah atau berlarikah? Apakah jawaban itu berada di kamu?
Sebenarnya sudah lama semua perasaan yang tak pasti ini mulai memenuhi setiap sudut dalam hati dan tak pernah terabaikan di setiap inci sel syaraf yang ada. Aku tak mau menyesali semua kerinduan yang kamu ciptakan. Membuatku bertekuk lutut pada perasaan dan hal yang tak pasti. Membuatku menutup mata akan orang lain selain kamu, yang mampu membuatku tetap ada untuk memandangmu. Jadi apakah benar ternyata aku masih bertahan dan bukan berdiri?

Mungkin semua ini bermula dari sebuah kebiasaan yang tak kunjung habis. Kebiasaan itu semakin lama malah semakin bertambah. Sayangnya kebiasaan juga masih tak mampu untuk mengubah garis cerita yang ada. Jadi apa yang harus ku perbuat? Tetap memandang kearahmu tapi tetap tak mampu untuk mendekat?
Dalam setiap cerita selalu ada pertanda. Aku masih percaya akan hal itu. Dan apakah pertanda itu ada untuk aku atau mungkin untuk kita?

Apa mungkin aku terbilang tolol untuk ukuran manusia sedewasa ini? Dewasa atau tidak sepertinya bukan takaran untuk seseorang agar tak dikatakan tolol karena sebuah perasaan. Rasa seperti ini memang akan membuat orang menjadi aneh. Tidak bahagia tapi juga tidak ada rasa sedih. Kemudian apa?

“Jika memang kamu yakin. Bertahanlah!”

“Keinginanmu tak jauh berbeda denganku.”

“Lalu apa yang membuatmu tetap limbung?”

“Aku masih belum begitu yakin. Aku takut pada akhirnya harapanku tak akan terwujud.”

“Aku hanya tak ingin kecewa. Aku takut untuk menumbuhkan perasaan ini lagi. Takut akan lebih menyakitkan jika pada akhirnya semua akan berakhir,”lanjutku.

“Semua keputusan baik atau buruk selalu ada resikonya. Ada baiknya kamu memutuskan untuk bertahan atau berhenti.”

“Sepertinya aku akan memilih untuk bertahan. Tapi hanya bertahan. Aku tak akan bergerak untuk mengejarnya. Tapi juga tak berlari untuk menjauhinya. Biarkan cerita ini mengalir dengan sendirinya.” 

Rabu, 11 September 2013

MEDKOMINFO :)

Hai! Gak kerasa ternyata sudah hampir sebulan gak nge-blog. Berbagai macam kesibukan memaksa saya untuk meninggalkan rutinitas ini untuk sementara. Beginilah kalau sudah jadi orang sibuk atau mungkin sok sibuk?

Setelah bergabung di EBC (EEPIS Badminton Community) saya mencari kesibukan baru dengan bergabung di HIMA TELKOM (Himpunan Mahasiswa Telekomunikasi) – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Terlalu panjang nama kampusnya?


Tetua tercinta :D

Adik kecil MEDKOMINFO :D

Tebak siapa yg paling kece?


Agung - Galuh -___-

*abaikan*

Welcome Party Himpunan :)

Tetua MEDKOMINFO :D


Bergabung dengan Departemen Media Komunikasi dan Informasi (MEDKOMINFO) membuat saya semakin menjadi manusia yang begitu menikmati hidup. Semua kegilaan sepertinya ada disini. Mulai dari kegialaan A sampai dengan Z. Dan tentunya, membuat saya terlihat lebih muda dibanding yang lainnya. Walau sebenarnya saya masih tergolong muda.

Sekian dan Terima Kasih :)

Minggu, 04 Agustus 2013

Novel #5

Senin, 5 Agustus 2013.

Novel. Di rak buku kamar saya terdapat berbagai koleksi novel. Mulai dari teenlit, metropop, biografi, nonfiksi, sampai novel yang berbau motivasi maupun islami pun ada. Saya menyukai sastra sejak kecil. Dulu saat saya masih TK/SD saya sudah mengoleksi berbagai edisi dari majalan bobo. Karena saat ini saya sudah beranjak dewasa atau mungkin sudah mulai menua, jadi koleksi saya bukan majalah bobo lagi.

Kalau dompet lebih tebal dibanding biasanya, saya lebih suka menjajakannya bukan di warung, resto, ataupun mall tetapi saya lebih memilih toko buku.

Sampai saat ini, koleksi novel saya sekitar 35 buah. Alhamdulillah dari puluhan buku tersebut hanya beberapalah yang mendapat sokongan dana dari orang tua atau jika tak mau dikatakan “dibelikan”. Untuk memuaskan hobi yang saya tekuni, saya lebih mengandalkan uang sendiri. Jika memang dompet sedang miris, saya lebih suka pergi ke rental novel dan menyewanya barang 2 atau 3 novel setiap kali menyewa.

Novel-novel tersebutlah yang biasanya menemani saya diwaktu sibuk maupun senggang. Saat ke kampus pun saya selalu membawa novel. Sebelum tidur dan bangun tidur pun, merekalah yang saya cari. Pergi ke mall atau kemanapun, novel selalu tersedia di dalam tas. Bahkan saat berlatih bulu tangkis pun saya selalu meletakkan satu atau dua novel di tas merah saya. Mungkin itu sudah menjadi salah satu kebiasaan saya untuk membunuh waktu dengan cara yang positif.


Dulu saya begitu menyukai teenlit. Tapi karena sekarang sudah bukan masa SMA lagi, jadi level novel yang saya baca sedikit membanggakan. Cerita-cerita fiksi yang dikemas dengan pengorbanan, cita-cita, dan impian sangat saya sukai. Misalnya Sepatu Dahlan yang ditulis oleh Khrisna Pabicara, 5 cm dan 2 dari Donny Dhirgantoro, serta Trilogi Negeri 5 Menara yang dilukis dengan kata-kata indah oleh A.Fuadi.



Sebelumnya : Buku Yaasin #4

Buku Yaasin #4

Minggu, 4 Agustus 2013.

Untuk barang kedua (karena ketinggalan hari pertama dan kedua) challenge #CeritaDariKamar saya memilih Buku Yaasin. Kenapa saya memilih buku kecil yang terdiri dari tulisan arab ini? Sebab dengan ini saya bisa mengirimkan rentetan do’a lewat ayat suciNya. Layaknya seperti bisa berkomunikasi dengan ibu saya, walau beliau sudah berada di alam yang berbeda.

Biasanya saya membaca Yaasin seusai sholat mahgrib setiap hari kamis. Terkadang kalau banyak kegiatan di kampus dan mengharuskan pulang malam, biasanya saya membaca di kampus atau menunggu untuk pulang dulu. Sebuah rutinitas yang sangat saya rindukan. Dengan membaca ayat-ayat tersebut, seperti ada salam kerinduan yang meluncur bebas tanpa sebuah syarat. Dengan melantunkan kalimat-kalimat suci itu, membuat hati lebih tenang. Membuat kerinduan terasa terobati. Dengan buku kecil ini, saya seperti dapat memeluknya. Pelukan semu yang hanya bisa dirasakan dengan hati.

Kenangan lain mengenai buku Yaasin ini, saat sebelum beliau menutup mata akibat penyakit Leukimianya adalah saat saya membacakan ayat-ayat yang tertera tepat berada di sampingnya. Memperdengarkan ayat-ayat tersebut di dekat telinganya sebelum malaikat menjemputnya adalah hal yang tak akan pernah saya lupakan.

Jikalau setiap malam jum’at saya lupa mengkhusukan surat Yaasin untuknya seperti ada hal yang mengganjal. Dengan surat Yaasin saya dapat memeluknya. Dengan surat Yaasin saya dapat menyampaikan rindu yang takkan pernah dapat diutarakan kepadanya.


Selamat malam, Ibu.

Saya akan selalu merindukanmu.



Sabtu, 03 Agustus 2013

Perlengkapan Bulu Tangkis #3

3 Agustus 2013

#CeritaDariKamar. Saya baru mengetahui challenge ini tadi sore. Alhasil ketinggalan hari pertama dan kedua. Jadi, saya memutuskan menulis mulai hari ketiga saja. Challenge ini dikiperi oleh Bernadr Batubara atau di sosmed dikenal dengan nama @benzbara_

1 set perlengkapan bulu tangkis. Tas merah, raket, dan sepatu. Semua barang-barang yang saya miliki tersebut memang bukan barang branded. Tapi walau demikian, saya tetap bangga memiliki semua itu. Sebab, mereka adalah hasil keringat saya, jerih payah saya. Untuk memenuhi segala hobi yang saya miliki, saya lebih mengandalkan uang tabungan. Tetapi kalau misal uang tabungan masih kurang, biasanya saya meminta tambahan dari bapak maupun almarmuham ibu, sewaktu ibu saya masih ada setahun yang lalu. Jadi setidaknya, tak seberapa merepotkan orang tua. Walau pada dasarnya sebenarnya masih merepotkan. Hehe.

Untuk tas bulu tangkis tersebut, saya membeli sekitar 3 tahun yang lalu, sewaktu saya masih berdiam di bangku sekolah abu-abu putih. Alhamdulillah uang tersebut hasil dari beasiswa salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Untuk sepatu dan raket hasil dari tabungan dan jerih payah merayu orang tua.
Mereka sudah seperti bagian diri saya. Mengapa? Karena saya begitu menyukai dunia bulu tangkis. Sejak kecil saya sudah diperkenalkan dengan olahraga tepok bulu ini. Jadi tak heran  jika seminggu tak bermain bulu tangkis seperti ada yang hilang dari bagian diri saya.

Sejak melihat permainan legenda bulu tangkis Indonesia bahkan dunia, Taufik Hidayat, ada sebuah impian yang sedikit demi sedikit mulai mencuat. Terlebih saat saya pindah dari Ponorogo ke Surabaya. Impian itu semakin lama semakin menyeruak tetapi tak dibarengi dengan dukungan orang tua. Menjadi seorang atlet bulu tangkis bukanlah keinginan mereka. Apalagi bapak, beliau lebih mendukung saya di dunia kedokteran. Tapi sayangnya jalan yang beliau pilih bukanlah jalan yang saya inginkan.


Dan pada akhirnya seperti inilah saya. Tetap berkecimpung dalam dunia bulu tangkis dalam skala yang berbeda. Dulu saya pernah bergabung dengan club lokal, PB Satria Cabang. Tapi karena disibukkan dengan perkuliahan jadi saya memutuskan untuk berhenti dari club tersebut. Dan untuk saat ini, saya masih berlatih bulu tangkis bersama UKM Bulu Tangkis PENS dan UKM Bulu Tangkis ITS.





Jangan dilihat brandnya, tapi lihatlah bagaimana cara seseorang untuk memperolehnya :')

Selasa, 30 Juli 2013

Bakti Sosial Bersama Abang Becak

Hari itu datang lagi namun dengan tempat yang berbeda, kegiatan yang berbeda, orang yang tentunya berbeda, dan suasana yang berbeda. Satu hal yang tetap sama dan tak akan pernah luput, kebersamaan.

Kali ini Himpunan Mahasiswa Teknik Telekomunikasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (duh ribet amat) singkatnya, HIMA TELKOM PENS, mengadakan kegiatan sosial yang digagas oleh Departemen Hubungan Luar Negeri berupa “Buka Bersama dengan Abang Becak” (gaulnya suh gitu). Kegiatan sosialnya dilaksakan di Jalan Tambaksari. Tau kan pasti? Itu tuh depannya Stadion Persebaya ada Taman. Nah, disitu tempat kita magang kemarin.

Panitia dari kegiatan ini adalah Staff Muda HIMA TELKOM. Selain dihadiri abang becak, kegiatan ini juga dihadiri Bapak Roman Bangsacara selaku Kepala Himpunan Mahasiswa atau KAHIMA. Ah, manggil bapak nanti dimarahin, maksud saya Mas Roman Bangsacara dan juga Staff Ahli HIMA TELKOM dan pastinya mahasiswa/i Telkom 2012.

Rabu, 24 Juli 2013

Bahagialah Disana, Aku Sangat Merindukanmu

I found here
Semua orang tahu hari ini tanggal 24 Juli 2013. Aku cukup mengingat tanggal ini dan tak akan melupakan cerita dibaliknya. Sebab satu sayap telah hilang dan tak akan kembali dari kehidupanku tepat setahun yang lalu. Tak akan ku lupa dan tetap akan ku kenang. Sepanjang hidup karena dia adalah bagian dari nadiku.

Bersyukurlah sayap itu masih bisa kalian sentuh. Atau paling tidak kalian masih bisa melihatnya dari jarak sedemikian rupa. Berbeda denganku, aku sudah tak mampu melihat apalagi menyentuh sayap itu. Aku hanya mampu mengingat sayap yang telah patah. Sayap itu tak akan pernah kembali ke dunia ini. Sayap yang ku maksud adalah ibuku. Wanita hebat yang telah memperjuangkanku, yang telah mendidikku, yang mampu membuatku menunduk karena semua kesalahan yang telah ku perbuat, yang mampu menangis saat beliau marah, yang mencari saat beliau tak kunjung pulang dari tempat kerjanya, yang menanti masakan-masakannya terhidang di meja makan.

Aku sudah tak bisa mengalami hal-hal sederhana itu. Begitu sederhana hingga sebagian orang mungkin sudah lupa. Saat ini, kalian masih bisa menikmati semua masakan-masakan ibu bukan? Aku tidak! Saat kalian pulang sekolah atau kuliah, ibu pasti sudah menunggu di rumah, sedang duduk manis atau mungkin sudah tertidur di kamarnya bukan? Aku tidak! Saat ibu meminta menjemputnya di tempat kerja, kalian mungkin akan mengeluh karena mengganggu kegiatanmu bukan? Aku tidak! Aku sudah tidak bisa mengeluh lagi karena beliau sudah pergi. Pergi bukan untuk kembali.

Selasa, 23 Juli 2013

Dentingan Melodi Senja

Menatap lembayung di langit Bali
Dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
Bebas berandai memulang waktu

Sebait lagu diiringi petikan gitar mengalun pelan namun dalam. Terlintas potongan-potongan kenangan lalu bersamanya. Sepertinya potongan kenangan itu menjelma menjadi kenangan abadi yang tak mau terhapus tanpa catatan. Bayangnya begitu nyata tapi tak dapat tersentuh. Mampu untuk diingat tapi sangat sulit untuk dihapus.

Senja. Ya, namanya Senja. Gitar yang saat ini kumainkan adalah pelengkap hidupnya. Senja begitu menyukai musik. Karenanya, aku menyukai musik. Menjadikan musik sebagai pelengkap hidup, sepertinya. Karenanya juga aku bisa menciptakan melodi lembut namun dalam dengan petikan-petikan gitarku.

Jumat, 19 Juli 2013

EBC (EEPIS Badminton Community)


Hai hai. Kali ini aku mau share tentang kegiatan ku di kampus (lagi). Jangan bosen ya soalnya kemarin aku juga udah cerita kegiatanku yang lain :D

Nah, kali ini aku mau berbagi cerita tentang UKM yang aku ikuti. Di PENS, aku cuma ikut satu UKM. Setia gitu lah intinya. Aku cuma milih satu UKM karna aku pengen all out disini. Pengen bener-bener fokus disini aja. Dulu sih aku asal ikut UKM Fotografi juga. Tapi karna sesuatu hal, aku cuma dateng sekali dan habis gitu aku gak ikut lagi.

Dan akhirnyaaaa *jeng jeng jeng* disinilah aku. Sekarang aku di EBC. EEPIS Badminton Community, sebutan yang lebih gaul buat UKM Bulu Tangkis PENS.

Biasanya kita latihan tiap hari Rabu jam 15:00 s/d 18:00 di GOR Bulu Tangkis ITS. Mau gabung? Gampang kok. Jadi mahasiswa/i PENS dulu terus dateng aja deh ke lapangan kalo lagi ada jadwal latihan :D

Awal-awal jadi MABA dulu, yang latihan bejibun. Apalagi ceweknya. Ceweknya banyak jadi lumayan rame gitu. Sekarang? Entahlah. Cewek-ceweknya hilang dari peradaban. Jadi yang biasanya latihan cuma aku. Catet ya! Cewek yang paling sering latihan cuma aku. Catet tuh! Aku cewek bukan cowok! *ah sudahlah*
Selain hari Rabu, kita juga pengen latihan di hari lain. Tapi sampai sekarang masih belum terealisasi soalnya masih libur latihannya karna apalagi kalo engga karna puasa. Badan rasanya jadi lemes, letih, lunglai, lesu dan sejenisnya itu kalo lagi gak latihan gini *curhat*


Kamis, 18 Juli 2013

Komunitas M&M Telkom 2012

Ceria tanpa batas { }
M&M. Sebuah komunitas yang dinaungi Departemen MEDKOMINFO (Media Komunikasi dan Informasi) Teknik Telekomunikasi. Disini kita bisa belajar mengenai majalah dan mading. Kali ini, aku pengen berbagi aja cerita-cerita sama M&M.

Biasanya, kita kumpul di gedung lama atau sering disebut gedung D3 di lantai 3. Lantai 3 ini udah kayak rumah kita sendiri, karna yang biasanya seliweran di lantai ini kebanyakan mahasiswa Telkom. Nah, di lantai 3 ini ada sekotak ruangan, bisa dibilang rumahnya MEDKOMINFO. Kita biasanya kumpul disitu, di radio. Jadi kalo siaran disini, kalo ngerjain majalah atau bulletin disini juga, ngerjain mading pun juga disini. Untungnya tidur gak disini juga, kalo iya bisa dicariin orang tua nih. Hahaha.

Kenapa aku bisa gabung sama Komunitas M&M? Awalnya aku ikut komunitas Bulu Tangkis di Telkom. Tapi emang dasar aku yang gak bisa punya sedikit kegiatan, jadi aku pengen gabung sama komunitas lain biar bisa nambah jam terbang *apalagi coba*. Alhasil aku milih M&M soalnya aku pengen belajar nulis terus pengen ngepakin sayap kayak bidadari di dunia tulis menulis. Dulu ada komunitas NERD dan sejenisnya itu, tapi aku mikir lagi dan gak ikut gabung. Takut otak malah soak kalo dibuat mikir yang berat-berat. Haha


Selasa, 16 Juli 2013

Senja Belum Tergantikan

Dulu aku begitu menyukai senja. Tapi sampai saat ini semuanya tak akan pernah berubah. Masih tersimpan dan masih seperti dahulu. Aku masih menantikan senja yang hanya tercipta beberapa detik menjelang malam. Beberapa detik yang sempurna namun indah. Tak terkalahkan.

Di sudut hari-hariku, masih ada namamu. Harusnya kamu itu. Namamulah yang menghangatkan relung-relung jiwa. Menghangatkan mata dan hati. Masih sama seperti yang kemarin. Masih ada namamu di hati terkecilku.

Jangan lupa lusa dateng.

Liat bsk.

Kenapa?

Lg sakit.

Sakit apa km?

Tipes.

Yaudah istirahat! Biar lusa bisa dateng.

Percakapan melalui pesan singkat yang ternyata sudah lama tak tercipta. Sudah lama aku dan kamu tak seperti ini. Saling menegur sapa, mengetahui kabar masing-masing, bercanda, dan bercerita lewat sebuah ponsel. Ada kerinduan yang ternyata timbul. Semoga kamu tahu itu.

Gimana keadaanmu?

Udah agak mendingan kok.

Besok dateng kan ya?

Liat besok deh.

Dateng dong. Awas sampek km gk dateng.

Haha, iya.

Sip.

Apa kamu juga merasa bahagia saat menerima semua pesan singkat itu dariku? Apa kamu memiliki kerinduan yang sama sepertiku? Sebuah pengharapan yang tak pernah pudar sampai detik ini.

Senin, 01 Juli 2013

Someday

Aku masih mengenangmu. Masih menanti seperti mereka yang setia menunggu senja. Masih seperti mereka yang mengharapkan pagi datang sesegera mungkin. Masih seperti mereka yang mengharapkan janji-janji untuk segera ditepati. Menanti sapaan lembutmu dengan tatapan tenangmu. Menanti cerita-cerita sederhana yang meluncur deras dari bibirmu. Menanti “omelan” mu karena berbagai ulah yang sering ku ciptakan. Masih disanakah kamu? Masihkah kamu menatap kearahku? Kamu, mengobrak-abrik isi hatiku dengan pesona yang tak pernah luntur. Ya, pesona. Kamu benar-benar mengalihkan hati, pikiran, dan jiwaku dengan pesona sederhanamu.

Andai kamu mampu mendengarku tanpa aku berbicara sepatah kata pun. Andai kamu mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut di otakku tanpa ku utarakan sebelumnya.
Kamu berdiam disana. Apakah otakmu sempat terlintas bayangku? Namaku? Atau bahkan cerita-cerita yang pernah kita ukir? Apa kamu sempat mendengar bisikan rinduku?

Rindu ini terasa indah. seindah senja yang memayungi langit sore. Seindah kerlipan kunang-kunang di gelapnya malam. Seindah hangatnya matahari pagi yang menyengat kulit bersama munculnya pengharapan-pengharapan baru. Untukmu, rindu ini kuciptakan. Untukmu, rindu ini kunikmati. Dan untukmu pula, rindu ini kuhayati. Sampai kapan? Entah. Biarkan aku menikmati rindu yang pernah atau bahkan sering kali kamu ciptakan.

Kamis, 27 Juni 2013

Aneka Rasa

Bahagia saat pada akhirnya Tuhan mengembalikan rasa yang sempat hilang. Memunculkan kembali berbagai rasa; rasa pahit, manis, asam, dan rasa-rasa yang lain. Tak ada yang lebih indah dari semua itu jika dibandingkan saat kita tak merasakan apapun, saat tiba-tiba rasa itu hilang. Mati rasa.

Mencoba menembus batas. Mencoba menembus dinding tebal yang ada di depan mata. Mencoba menikmati setiap rasa yang perlahan mulai menyesakkan jiwa, pikiran, dan hati.

Wanita ingin dimengerti. Tanpa terkecuali.

Tetapi sepertinya untuk saat ini harus bersabar dulu. Seseorang di depan sana masih belum tahu, masih belum paham dengan tindakan-tindakan kecil yang dibuatnya, Maya. Terkadang lelah juga jika harus menjadi orang lain. Berpura-pura tidak tahu, berpura-pura angkuh, berpura-pura cuek. Padahal di luar itu, kepura-puraan hanya untuk menutupi rasa yang tak bisa diungkapkan. Kepura-puraan itu untuk menutupi rasa. Entah sampai kapan harus berpura-pura di saat-saat tertentu.

Minggu, 23 Juni 2013

11 Bulan

Selamat malam malaikat cantik yang pernah menemani kehidupanku selama 19 tahun. Apa kabar disana? Masih bisa melihat kami tersenyum? Ku harap begitu.

Aku ingin mengenangmu lewat barisan kata ini. Mengenang malam itu, 23 Juni 2012. Malaikat tahu? Aku tak akan melupakan detik-detik itu.

Malam sebelumnya, 22 Juni 2012 aku menginap di Rumah Sakit Darmo. Menemani dan menjaganya. Sering kali dia terbangun, terbatuk-batuk karena darah kental yang bersarang di mulutnya. Hidungnya pun tak pernah hilang dari tetesan-tetesan darah. Jadi terpaksa hidungnya harus disumbat dengan kain kasa. Begitu menyiksa sepertinya.

Esok paginya aku pulang. Bergantian dengan adik ibu untuk menjaganya. Tapi kali ini ada yang berbeda.

“Nanti kamu jaga lagi kan?”

“Loh, kan sudah dari kemarin.” Sebenarnya aku ingin menjaganya, tapi aku tipikal orang yang tidak tega melihar orang sakit.

Sebelumnya aku diberi tugas oleh kakak ipar ibu. Membeli bayam merah kemudian bayam itu dijadikan jus. Mungkin itu bisa memberi dampak positif untuknya, Ibu.

Sore harinya aku berkeliling mencari bayam merah. Cukup sulit memang. Berbagai supermarket banyak yang tidak mempunyai sayuran berwarna merah itu. Mungkin kebetulan sayurnya habis, pikirku.

Setelah mencari bayam tersebut yang akhirnya bisa ku dapatkan, aku memilih untuk tidak pulang dulu. Mengisi perut lebih baik daripada nanti sakit dan tidak bisa membantunya serta menemaninya di Rumah Sakit.

Nasi bakar. Aku masih ingat nasi apa yang ku pesan dengan sahabatku. Dia, salah satu sahabat yang menemani dan memberiku semangat terlebih saat aku berada di titik terakhir seperti tanggal 23 Juni 2012.

Bip…

Sebuah pesan singkat dari salah satu saudaraku.

Kamu jemput tante. Cepet ke rumah sakit.

Ada apa? Wajahku mulai pucat. Makanan yang sudah aku pesan sudah tak bisa memikat hati.

Sabtu, 08 Juni 2013

Untitled

Lelaki itu masih miliknya.

Wanita yang saat ini berada di hadapaku selalu membagikan keluh kisahnya saat kami bertemu. Berbagai cerita mengalir begitu saja tanpa diminta. Cerita mengagumkan, indah, tapi juga menyakitkan. Tapi yang perlu digaris bawahi sepertinya ceritanya begitu menyakitkan. Begitu membuatku trenyuh dan merasa bangga memiliki sahabat sepertinya.

Maretha. Wanita luar biasa yang memiliki kesabaran tanpa batas. Dia mampu tersenyum dalam tangis. Mampu berdiri saat dia benar-benar terperosok ke dalam kesedihan. Mampu meyakinkan orang lain bahwa sebenarnya dia masih kuat. Keteguhan hatinya untuk memperjuangkan dan merawat cinta yang telah dia dapat benar-benar mengagumkan.

“Kenapa kamu masih mampu dan masih mau mempertahankan dia?”

“Selagi masih ada kesempatan untuk mempertahankan kenapa tidak?”

Kesempatan. Dia benar-benar menggunakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuknya. Selagi ada waktu. Selagi masih ada kesempatan. Dan selagi bisa.

Tak jarang dia berkeluh kesah di hadapanku. Bercerita panjang lebar mengenai lelaki yang telah memiliki hatinya. Bercerita bagaimana lelaki itu lebih sering terlihat cuek dibanding perhatian. Tapi perlu kita ketahui, cuek yang dimiliki seorang lelaki bukan berarti bahwa dia tidak memperhatikan kita. (mungkin) dengan cueknya, dia memperhatikan wanita lebih dari yang kita ketahui.


Selasa, 04 Juni 2013

Menepi Untuk Berjalan Kembali

Memilih satu dari sekian banyak pilihan bukanlah perkara mudah. Berbagai pertimbangan harus dipikirkan dengan baik jika tak ingin terjadi suatu keburukan yang tak diinginkan.

Tak terkecuali menjatuhkan pilihanku ke kamu. Aku harus berpikir matang terlebih dahulu sebelum akhirnya mulai membangun perasaan yang begitu besar terhadapmu. Aku harus menempuh proses yang sangat panjang. Menjadikan semua proses itu bagian dari semua perjalananku.

Dalam suatu proses tak selalu ada hal yang menyenangkan, tetapi ada juga berbagai hal yang sangat tak kita inginkan muncul begitu saja tanpa mau permisi terlebih dahulu. Sampai saat ini, aku masih menempuh berbagai proses itu. Aku masih merasakan bagian dari proses yang sangat tak ingin aku temui. Kendala. Kesakitan. Sebuah pengharapan yang sampai saat ini (mungkin) masih belum diketahui olehnya.

Kamu tahu? Atau malah kamu tidak tahu? Ah! Mungkin benar kamu memang tak akan tahu. Jadi tolong sebentar saja kamu coba lihat kesini. Ya! Kesini. Kearahku. Hanya sebentar. Jika memang iya, ku harap kamu akan berbalik. Berbalik dan berlari ke arahku untuk menggapaiku, untuk meraihku. Menggapaiku yang seakan-akan telah luruh bersamaan dengan semua proses tersebut.


Jumat, 17 Mei 2013

Kemarilah! Aku Disini


Kamu mungkin tak akan pernah tahu bahwa aku disini. Menunggumu di seberang jalan tanpa mau melangkap kembali, untuk mencapaimu. Aku hanya mampu menikmati semilir angin, menikmati rakitan takdirNya, tanpa pernah tahu kapan aku harus benar-benar bangkit, berlari dan menjangkaumu.

Apakah kamu batu? Apa kamu hanya berpura-pura menjadi batu? Tanpa pernah tahu aku adalah air yang ingin melembutkanmu. Menjadikanmu lebih peka dengan sekitarmu.

Apa kamu buta? Atau sengaja membutakan mata dan batinmu? Kemarilah. Aku akan menunjukkanmu beberapa jalan yang mungkin akan membuat keadaan lebih baik. Membuat perasaanmu dan perasaanku menjadi satu. Lihatlah kemari! Ada aku yang selalu memperhatikanmu. Secara langsung maupun tak langsung. Selalu mengharapkanmu tanpa pernah tahu apakah kamu juga akan mengharapkanku.

Entahlah! Bagaimana seharusnya aku menyampaikan pesan ini? Cobalah kemari! Mataku mampu menyampaikan semua pesan yang tak bisa ku tuliskan, apalagi ku ungkapkan. Mataku akan berbicara, dari hati.


Minggu, 14 April 2013

Pergilah Kegamangan



Aku menginginkan perasaan yang dulu terulang kembali. Merasakan bagaimana bahagianya saat melihat “seseorang”, merasakan bahagia saat berada di dekatnya, saat bertegur sapa, dan hal-hal aneh namun indah itu.
Memulai sesuatu hal memang sangat sulit dibandingkan mengakhiri suatu hal, termasuk memulai sebuah rasa. Terlebih lagi ada suatu “ketakutan” yang entah bisa hilang atau tidak.

Ingin sekali seperti dahulu, tak ada ketakutan yang menghampiri. Semuanya berjalan begitu nyata saat ada perasaan terhadapnya. Namun, berbeda dengan sekarang. Keadaan dahulu membuat efek yang tidak baik di masa sekarang. Ada suatu kegamangan, ketidakpastian, bahkan keraguan.

Sampai kapan harus seperti ini? Sepertinya aku tak tahu jawabnya. Tapi jika tak segera menemukan jawaban, mungkin selamanya aku akan terhenti disini. Tak dapat berdiri apalagi berlari.

Kamis, 11 April 2013

Masih (Ibu)


Hai bidadari cantik. Bagaimana keadaan disana? Masih ada kesempatan melihat senyum kami kah? Jika memang iya, saya harap keadaan disana akan lebih membuatmu bahagia.

Bidadari, tahukah kau saat saya merindukanmu, saya selalu pergi ke tempat itu. Saya hanya melewati bangunan besar dan tua itu. Kegiatan tak rutin yang selalu saya lakukan saat malam hari, sebab saya sangat suka dengan suasana malam hari di tempat kenangan terakhir kita. Saya selalu teringat saat pagi hari datang untuk menjagamu dan malamnya saya akan pamit pulang atau bahkan saya tak pulang demi menjaga dan merawatmu. Melihat senyum ketabahan yang selalu kau tularkan untuk saya, keluarga, dokter, dan perawat yang ada disana.

Satu hari setelah pindah rawat inap di Rumah Sakit Darmo, Profesor menginginkannya agar dikemoterapi. Keputusan besar melibatkana keluarga kami.

Minggu, 10 Maret 2013

Mencintai Tak Selamanya Tuk Disakiti

Perasaan ini terlalu rumit untuk dijelaskan. Terlalu sulit untuk digambarkan dengan rentetan kata-kata yang penuh makna. Aku tak tahu sebenarnya perasaan apakah yang selalu mengganggu hati dan pikiranku ini. Semuanya terjadi begitu saja. Entah sejak kapan dan entah dimulai darimana. Cinta memang selalu membuahkan sebuah kejutan. Tapi apakah ini cinta?

“Bagaimana perasaanmu dengannya?”

“Aku tak tahu. Semuanya terlalu abstrak. Tidak mudah untuk dijelaskan.”

“Tak ada yang rumit jika kamu mau memulai. Coba ceritakan.”

“Apa yang harus diceritakan? Aku sendiri tidak tahu harus memulai darimana. Dan akan berakhir bagaimana.”

Senin, 25 Februari 2013

Masih Untuknya, Malaikat Berjilbab


Seperti malam-malam sebelumnya, saya ingin menyapa malaikat tak bersayap, malaikat yang sempat bernyawa, malaikat berjilbab, yang sudah berpisah dari saya tapi saya masih berharap dipertemukan lagi; nanti di surga, Ibu.

Satu pesan yang ingin saya sampaikan. Dan beberapa cerita yang ingin saya ungkapkan untuk ibu.

Pesan untuk Ibu, saya sudah menyelesaikan satu semester di Teknik Telekomunikasi - Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Transkrip nilai sudah ada di tangan saya, Bu. Kemarin Sabtu (22/2) bapak mengambilkan hasil belajar yang sudah saya perjuangkan. Biasanya kalau ada rapat orang tua dan mengambil raport,  Ibu lah yang selalu melakukannya, untuk saya. Seperti saat sebelumnya; saat Leukimia itu sudah mendekati Ibu, menjadi sahabat Ibu, tapi Ibu tetap gigih mengambilkan hasil belajar itu untuk saya.

Rabu, 20 Februari 2013

Masih Mencari Teka Tekimu



Masih mencoba mencari teka-teki yang ku ciptakan sendiri. Mencoba mengorek segala kenangan. Mengorek segala kisah yang sudah tercipta dengan mudahnya. Mencari jalan keluar dari segala permasalahan. Sebenarnya bukanlah permasalahan besar, namun tetap saja dia bernama “permasalahan” yang hanya akan selesai jika kita menemukan solusi.

Kamu dapat memeluk segala harapku, segala kenanganku. Kamu juga pemeluk segala kesakitanku. Kamu juga penyebab senyumku. Dan kamu, adalah bagian dari mimpi-mimpiku.

Denganmu, aku dapat tertawa. Aku dapat merasakan diriku menjadi utuh kembali. Mungkinkah ini cinta? Aku terlalu sulit untuk menemukan jawaban seperti apa cinta yang sesungguhnya. Cinta yang akan membawa kita pada kebahagiaan. Terlalu sulit menemukan jawaban jika tak ada kamu. Aku tak mampu untuk mencarinya. Mungkin denganmu, aku dapat menemukan jawaban, sebenarnya apakah rasa yang sudah kamu tinggalkan ini? Mungkin juga dengan hadirnya kamu kembali, keutuhan ini akan menjadi sebuah keutuhan abadi. Keutuhan yang tak akan hilang setelah kamu mendekat dan memelukku.