Selasa, 30 Oktober 2012

dan lagi (untuk kesekian kalinya)

Langit senja mampu membuatku tersenyum tanpa batas. Karena kuasa Tuhan, senja datang dengan sejuta keindahan yang tak pernah dibayangkan oleh semua orang. Detik demi detik terlewatkan dengan kesan yang sangat sempurna, sangat eksotis. Tuhan sangat baik denganku. Tuhan mampu membuatku bisa merasakan angin senja. Sampai kapanpun jika Dia ingin membuatku merasakan kedamaian sang senja, Tuhan pasti bisa melakukan itu. Senja dan kuasa Tuhan melebur dan bergabung menjadi satu kesatuan yang tak dapat lagi dipisahkan. Aku tak kuasa menahan rintikan air yang perlahan muncul. 

Senja, itu kamu. Sosok yang penuh kedewasaan, sosok yang mempunyai perhatian tanpa batas, penuh dengan kekonyolan yang tak pernah dipikirkan oleh banyak orang. Kamu, paling suka menirukan gaya orang lain. Mulai dari gaya berbicara sampai tingkah laku mereka, kamu sangat hafal dengan mereka yang ada di lingkunganmu.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Surat Ketiga Untuk Ibu


28 Oktober 2012, tepatnya 8 hari lagi adalah pengajian 100 hari almarhumah ibu saya. Ternyata sudah lama ibu pergi meninggalkan kami; bapak, adik, dan saya. Saya rindu akan seyuman, keramahan, kebaikan, kesabaran, ketegasan, kecantikan, ketegaran dan semuanya mengenai kepribadian beliau. Jika saya menyebutkan satu-per-satu mungkin tak akan bisa sebab banyak sekali hal-hal ataupun kepribadian baik dari diri beliau.

Biasanya, saat waktu sudah beranjak menuju pukul 05:00, ibu sangat suka membuka pintu kamar saya. Dengan satu sentakan lembutnya, sesegera mungkin saya bangun dan berlari ke kamar mandi untuk mempersiapkan sholat. Entah bagaimana caranya saya bisa seperti itu, saya tak tahu. Jam berapapun saat saya sedang tidur dan mendengar beliau akan memasuki kamar saya, sepertinya hati, mata, dan telinga saya sudah siap menerima beliau. Jika saya tak bangun saat jam 5 pagi, ibu sangat suka bermarah-marah ria. Saya sangat merindukan itu. Bukanlah kemarahan yang beliau timbulkan, melainkan sebuah ketegasan untuk putrinya.