Senin, 24 Februari 2014

Untuk Kamu Dia Bertahan

 sumber

Perjalanan ini sungguh membuatnya lelah. Sebelumnya tak pernah terbayangkan dia akan berjalan sejauh ini. Sebelumnya tak ada kata berlari dan mengejar yang baru, yang ada hanya bertahan. Bertahan mencintai secara diam-diam. Bertahan menyimpan kekaguman yang teramat sangat hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Tanpa sadar, dia memperhatikan kamu. Garis wajahmu, senyumanmu, tawa candamu, sifat cuekmu yang mampu dia terima dengan baik. Dalam diam dia mendamba kamu, yang teramat dekat dengannya namun belum bisa terjamah olehnya.

Saat ini dia masih berjalan. Ditemani embun yang menetes bersama daun. Ditemani bayang-bayang pada tengah hari. Juga ternyata ditemani cahaya jingga di ujung barat. Dan ternyata juga ada ribuan cahaya kecil di langit, yang dalam diam cahaya-cahaya itu ada untuknya. Mereka menemaninya tanpa lelah. Seperti dia berharap kamu, tanpa lelah juga. Dia, menoleh ke kanan-kiri, siapa tahu ada pemikat hati, yang lebih peka, yang lebih mengerti, yang mungkin akan seperti kamu. Adakah?

Satu, terlewati. Lebih mengerti. Lebih memahami. Tapi ada bagian hati yang sepertinya tak terpenuhi, tak berisi.


Minggu, 23 Februari 2014

Saat Dia Sudah Lelah

Sumber

Ada sesuatu yang tak ingin dia percaya. Yaitu mengenai insting dia sendiri. Dia begitu membenci insting yang sering berjalan di pikirannya. Beberapa pemikiran merambat ke otaknya, tak mau untuk ditinggalkan. Menjelma menjadi hal yang terus membayang-bayangi, kemanapun dia pergi. Mungkin insting itu terlalu mencintai Empunya. Mungkin dia ingin menunjukkan beberapa hal untuk bisa dipercaya si Empu tersebut sebelum hal tersebut terjadi atau mungkin agar si Empu mengetahui lebih dulu dibanding yang lainnya. Atau agar si Empu dapat mengantisipasi segala hal yang akan terjadi? Entahlah. Sulit sekali untuk menebak hal-hal yang berseliweran di pikiran kita.

Seperti sedia kala, dia selalu mencoba untuk berpikir positif. Walaupun terkadang bayang-bayang negatif itu selalu terlintas di depannya. Sampai saat ini, saat senja perlahan mulai menghilang dan berganti menjadi malam.

Tapi realita memang tak bisa ditolak. Kejadian-kejadian itu sudah tercetak jelas. Sangat tak wajar. Terlukis di depan mata dan tak ada penjelasan bahwa semua itu adalah ilusi belaka. Kejadian nyata di depan mata sudah tak bisa ditutup-tutupi lagi. Sekalipun memberikan kesan busuk. Sekalipun itu menyakitkan.

Sabtu, 22 Februari 2014

Titipan Rindu



Begitu kerinduan merasuk ke dalam diri seseorang, dia tak akan mau pergi sebelum pertemuan itu datang. Tetapi terkadang saat bertemu pun, kerinduan itu tak ayal malah semakin merebak. Seperti sebuah minyak, jika sedikit demi sedikit ditambahkan, dia akan melebar sesuai wadahnya. Bukan malah semakin menyusut.

Saat kamu berjauhan, hanya sedikit komunikasi yang terjalin. Bukankah kamu pasti begitu merindukannya?

Ah, setidaknya diatas kita masih ada langit biru. Hanya satu langit yang kita lihat setiap harinya secara bersamaan. Langit yang aku lihat juga langit yang kamu lihat. Mungkin aku bisa menemukan wajahmu disana, pun juga dengan senyum dan tawamu. Walau hanya bayang-bayang. Begitu juga dengan kamu. Kamu pasti juga menemukan aku disana, walau berjauhan. Karena kita menatap langit yang sama.