Kamis, 27 Juni 2013

Aneka Rasa

Bahagia saat pada akhirnya Tuhan mengembalikan rasa yang sempat hilang. Memunculkan kembali berbagai rasa; rasa pahit, manis, asam, dan rasa-rasa yang lain. Tak ada yang lebih indah dari semua itu jika dibandingkan saat kita tak merasakan apapun, saat tiba-tiba rasa itu hilang. Mati rasa.

Mencoba menembus batas. Mencoba menembus dinding tebal yang ada di depan mata. Mencoba menikmati setiap rasa yang perlahan mulai menyesakkan jiwa, pikiran, dan hati.

Wanita ingin dimengerti. Tanpa terkecuali.

Tetapi sepertinya untuk saat ini harus bersabar dulu. Seseorang di depan sana masih belum tahu, masih belum paham dengan tindakan-tindakan kecil yang dibuatnya, Maya. Terkadang lelah juga jika harus menjadi orang lain. Berpura-pura tidak tahu, berpura-pura angkuh, berpura-pura cuek. Padahal di luar itu, kepura-puraan hanya untuk menutupi rasa yang tak bisa diungkapkan. Kepura-puraan itu untuk menutupi rasa. Entah sampai kapan harus berpura-pura di saat-saat tertentu.

Minggu, 23 Juni 2013

11 Bulan

Selamat malam malaikat cantik yang pernah menemani kehidupanku selama 19 tahun. Apa kabar disana? Masih bisa melihat kami tersenyum? Ku harap begitu.

Aku ingin mengenangmu lewat barisan kata ini. Mengenang malam itu, 23 Juni 2012. Malaikat tahu? Aku tak akan melupakan detik-detik itu.

Malam sebelumnya, 22 Juni 2012 aku menginap di Rumah Sakit Darmo. Menemani dan menjaganya. Sering kali dia terbangun, terbatuk-batuk karena darah kental yang bersarang di mulutnya. Hidungnya pun tak pernah hilang dari tetesan-tetesan darah. Jadi terpaksa hidungnya harus disumbat dengan kain kasa. Begitu menyiksa sepertinya.

Esok paginya aku pulang. Bergantian dengan adik ibu untuk menjaganya. Tapi kali ini ada yang berbeda.

“Nanti kamu jaga lagi kan?”

“Loh, kan sudah dari kemarin.” Sebenarnya aku ingin menjaganya, tapi aku tipikal orang yang tidak tega melihar orang sakit.

Sebelumnya aku diberi tugas oleh kakak ipar ibu. Membeli bayam merah kemudian bayam itu dijadikan jus. Mungkin itu bisa memberi dampak positif untuknya, Ibu.

Sore harinya aku berkeliling mencari bayam merah. Cukup sulit memang. Berbagai supermarket banyak yang tidak mempunyai sayuran berwarna merah itu. Mungkin kebetulan sayurnya habis, pikirku.

Setelah mencari bayam tersebut yang akhirnya bisa ku dapatkan, aku memilih untuk tidak pulang dulu. Mengisi perut lebih baik daripada nanti sakit dan tidak bisa membantunya serta menemaninya di Rumah Sakit.

Nasi bakar. Aku masih ingat nasi apa yang ku pesan dengan sahabatku. Dia, salah satu sahabat yang menemani dan memberiku semangat terlebih saat aku berada di titik terakhir seperti tanggal 23 Juni 2012.

Bip…

Sebuah pesan singkat dari salah satu saudaraku.

Kamu jemput tante. Cepet ke rumah sakit.

Ada apa? Wajahku mulai pucat. Makanan yang sudah aku pesan sudah tak bisa memikat hati.

Sabtu, 08 Juni 2013

Untitled

Lelaki itu masih miliknya.

Wanita yang saat ini berada di hadapaku selalu membagikan keluh kisahnya saat kami bertemu. Berbagai cerita mengalir begitu saja tanpa diminta. Cerita mengagumkan, indah, tapi juga menyakitkan. Tapi yang perlu digaris bawahi sepertinya ceritanya begitu menyakitkan. Begitu membuatku trenyuh dan merasa bangga memiliki sahabat sepertinya.

Maretha. Wanita luar biasa yang memiliki kesabaran tanpa batas. Dia mampu tersenyum dalam tangis. Mampu berdiri saat dia benar-benar terperosok ke dalam kesedihan. Mampu meyakinkan orang lain bahwa sebenarnya dia masih kuat. Keteguhan hatinya untuk memperjuangkan dan merawat cinta yang telah dia dapat benar-benar mengagumkan.

“Kenapa kamu masih mampu dan masih mau mempertahankan dia?”

“Selagi masih ada kesempatan untuk mempertahankan kenapa tidak?”

Kesempatan. Dia benar-benar menggunakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuknya. Selagi ada waktu. Selagi masih ada kesempatan. Dan selagi bisa.

Tak jarang dia berkeluh kesah di hadapanku. Bercerita panjang lebar mengenai lelaki yang telah memiliki hatinya. Bercerita bagaimana lelaki itu lebih sering terlihat cuek dibanding perhatian. Tapi perlu kita ketahui, cuek yang dimiliki seorang lelaki bukan berarti bahwa dia tidak memperhatikan kita. (mungkin) dengan cueknya, dia memperhatikan wanita lebih dari yang kita ketahui.


Selasa, 04 Juni 2013

Menepi Untuk Berjalan Kembali

Memilih satu dari sekian banyak pilihan bukanlah perkara mudah. Berbagai pertimbangan harus dipikirkan dengan baik jika tak ingin terjadi suatu keburukan yang tak diinginkan.

Tak terkecuali menjatuhkan pilihanku ke kamu. Aku harus berpikir matang terlebih dahulu sebelum akhirnya mulai membangun perasaan yang begitu besar terhadapmu. Aku harus menempuh proses yang sangat panjang. Menjadikan semua proses itu bagian dari semua perjalananku.

Dalam suatu proses tak selalu ada hal yang menyenangkan, tetapi ada juga berbagai hal yang sangat tak kita inginkan muncul begitu saja tanpa mau permisi terlebih dahulu. Sampai saat ini, aku masih menempuh berbagai proses itu. Aku masih merasakan bagian dari proses yang sangat tak ingin aku temui. Kendala. Kesakitan. Sebuah pengharapan yang sampai saat ini (mungkin) masih belum diketahui olehnya.

Kamu tahu? Atau malah kamu tidak tahu? Ah! Mungkin benar kamu memang tak akan tahu. Jadi tolong sebentar saja kamu coba lihat kesini. Ya! Kesini. Kearahku. Hanya sebentar. Jika memang iya, ku harap kamu akan berbalik. Berbalik dan berlari ke arahku untuk menggapaiku, untuk meraihku. Menggapaiku yang seakan-akan telah luruh bersamaan dengan semua proses tersebut.