Sabtu, 07 Januari 2017

Ndete Gili Ketapang

Waaaa, lama juga gak ngeblog. Terakhir ngeblog bulan Mei tahun kemarin. Jadi blog ini sudah tak terurus, tak terawat, dan hal yang tidak-tidak lainnya. LOL

Mmm, mau cerita dari mana? Mau tahu kenapa blog ini lama tak terjamah? Karena tahun kemarin saya sangat (sok) sibuk dengan tugas akhir yang nyebabin saya hampir gak lulus tepat waktu dan ternyata akhirnya lulus (ikut sidang susulan). Malu? Enggak kok. Justru saya bahagia akhirnya bisa melawan semua kemalasan, keterbatasan, semua kekurangan saya, dan meninggalkan beberapa organisasi yang saya ikuti di luar sana dengan berat hati. Itu pun setelah (sangat) dipaksa sahabat-sahabat saya untuk break sejenak. Alhamdulillah, Oktober kemarin saya wisuda tentunya bareng temen-temen seangkatan. Dibarengi dengan proses jatuh bangun yang sampek ngeribetin temen-temen seangkatan buat bantuin tugas akhir saya. Ah rasanya bahagia sekali dengan bermurah hati mau bantu ngerjain tugas akhir saya. Oh ya, sebelum saya wisuda Alhamdulillah juga sudah kerja di salah satu perusahaan telekomunikasi. Sedikit pengalam kerja itu yang bakal saya ceritain di sini. Seru atau enggak itu balik lagi ke temen-temen yang baca tulisan saya. Bagi saya itu harus saya tuliskan karena menurut saya itu pengalaman yang sangat mahal.

Saya bekerja di salah satu perusahaan di Sidoarjo. Sudah hampir 4 bulan saya bekerja di sana (Alhamdulillah pwol!). Kerjanya ngapain? Jalan-jalan. Sungguh. Setiap hari saya ngukur jalan, gak cuma di dalam kota tapi juga luar kota. Kerja sambil main atau main sambil kerja? Dua-duanya sama-sama mewakili lah. Because I really love my job! Kerjaan saya sebagai Drive Test Engineer. Apa itu DT Engineer? Dalam bahasa sederhananya, melakukan pengecekan sinyal di sekitaran pemancar sinyal dengan naik mobil. Hampir sama dengan jalan-jalan, kan, ya? Hoho.

Kamis, 05 Mei 2016

Mencipta Mimpi di SDN 1 Ngepung, Nganjuk

"We live not to do everything. We live to do something and make it amazing.”



Tak perlu melakukan segala hal untuk mengubah keadaan. Dengan melakukan satu hal, sebenarnya kita dapat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Bersama komunitas 1000 Guru Surabaya, kami tergabung dalam Traveling and Teaching 8 (TnT #8). SDN Ngepung 1 Nganjuk adalah tujuan kami. Tanggal 1 april kami berangkat di Surabaya dan dijadwalkan tanggal 2 akan melakukan teaching. Lalu berlanjut tanggal 3 melakukan traveling di daerah tersebut.



Apa yang membuat saya tertarik untuk mengikuti kegiatan ini?
Pertama, saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat untuk lingkungan dan orang-orang di sekitar saya. Walau tak banyak yang bisa saya lakukan, tapi paling tidak saya mau mencoba untuk memberi manfaat untuk lingkungan dan orang lain di sekitar saya.

Kedua, saya sangat menyukai anak kecil. Melihat tawa mereka, bermain bersama mereka, bercanda dengan mereka adalah hal sangat sederhana yang ingin terus saya rasakan.

Ketiga, apalagi kalau bukan ada embel-embel traveling-nya. Hampir setiap hari begulat dengan tugas di perkuliahan membuat saya ingin mencari pelarian, yaitu berwisata menikmati alam yang Tuhan suguhkan.



Perjalanan dimulai.
1 April 2016 jam 19.00 kami mulai berkumpul di pelataran Graha Pena. 4 tim 1000 guru, 11 relawan pengajar, dan 2 dokumentator memulai perjalanan jam 21.30 untuk menuju desa Sumbermiri, Nganjuk. Di perjalanan, kami menikmati waktu untuk mengenal satu sama lain dengan berbagi cerita dan tawa. Sekitar jam 02.00 kami sampai di tempat tujuan setelah membelah hutan di tengah malam. Desa tersebut cukup berada di pelosok. Udara di sana cukup dingin tapi tak membuat semangat kami luntur untuk memulai kegiatan di esok hari. Beberapa jam sebelum kegiatan dimulai, kami mengistirahatkan badan sejenak di Balai Desa setempat.


Selasa, 29 Desember 2015

Rindu

Bagiku, rindu itu seperti pengharapan. Pengharapan pada seseorang yang jauh di depan sana. Yang entah bisa digapai atau tidak. Yang entah bisa dipeluk untuk meluapkan luka atau tidak. Rindu, sesakit itukah ia hingga membuat orang berharap?

Bagiku, rindu adalah kekecewaan. Rindu pada ia, sedangkan ia tak membalas itu. Sedangkan ia sedang tertawan dengan bahagianya. Semengecewakan itukah ia yang bernama rindu?

Kamis, 03 Desember 2015

Hidup Tak Mau. Mati Pun Enggan.

Bagai senja yang lahir di pelupuk mata, aku menyukaimu seperti itu. Bagai senja yang beranjak menjadi pekat, ketakutanku seperti itu. Menjadi gelap. Menjadi kelam. Dan tercipta jarak. Jauh. Amat jauh. Hitam. Dan amat hitam. Kemudian lari terbirit-birit meninggalkan kegembiraan.

Tak mau mendekat karena takut. Tapi juga tak berani menjauh karena ketakutan yang sama. Seperti pohon kering yang tak mau beranjak untuk segera mati dan menggugurkan rantingnya atau layaknya pohon kering yang enggan untuk diramaikan kehidupannya dengan dedaunan lagi. Mau jatuh tak mau. Mau berdiri pun tak yakin. Ketakutan yang memuncak. Keberanian yang acap kali enggan untuk didirikan.

Dasar manusia! Tak yakin dengan dirinya sendiri. Maunya berjuang sekenanya. Maunya berkeinginan tinggi tapi tak mau merugi. Katanya mau berjuang tapi ada risiko tepat di depannya lalu mengundurkan diri. Maunya apa? Hidup tak mau. Mati pun enggan.

Jumat, 16 Oktober 2015

Nyampah Itu Gak OK

Hai. Apa kabar kamu hari ini? Alhamdulillah, setelah lebih dari 1 bulan, hari ini saya mencoba memanfaatkan waktu yang ada buat nge-blog sebentar. Sama seperti sebelumnya, saya mencoba sharing mengenai kegiatan-kegiatan saya. Maunya nulis fiksi lagi tapi kok ya masih belum ada waktu buat "mikir". Next time semoga sempat, ya. Hehe

Beberapa waktu yang lalu, HiLo Green Community Surabaya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan komunitas-komunitas yang ada di Surabaya. Kegiatan ini diadain sama "Sobat Bumi Surabaya" bertemakan "REMOVE" atau Resik-resik Mangrove. Hm, resik-resik mangrove? Kira-kira apa yang teman-teman pikirkan? Bersih-bersih mangrove? Jelas. Tapi gimana caranya? Pakek sapu? Di darat apa laut, ya? Bukan, bersih-bersihnya pakek tangan, bukan sapu. Soalnya bukan bersih-bersih debu. Tapi kita "nyampah". Resik-resik ini dilakuin di pesisir mangrove Wonorejo. Kurang lebih ada 10 komunitas yang terlibat di acara ini. Bersih-bersih mangrove dilakuin sekitar 2 jam. Dan tau berapa sampah yang didapat? Banyak banget! Parah! Trash bag dan karung sebanyak 20 biji gak bakal muat buat ngangkut sampah segitu banyaknya ke daratan.