Rabu, 30 Januari 2013

Harapan Saat Memakai Toga

sumber

Jika sudah menjadi mahasiswa apa yang terpikir dalam benak seseorang? Sarjana bukan? Sebuah kelulusan. Cerita saat memakai toga, berharap menjadi cumlaude, disambut oleh mahasiswa-mahasiwi adik tingkat, diarak oleh mereka dengan berbagai perayaan? Ya! Benar. Pasti itu yang terpikir. Sebentar, ada lagi. Tak akan bisa dilupakan. Foto bersama keluarga dengan background rak buku dengan berbagai warna.

Beberapa bulan yang lalu, saya bersama teman-teman mengarak kakak-kakak tingkat jurusan Teknik Telekomunikasi yang telah dinyatakan sebagai Sarjana Sains Terapan memutari kawasan ITS dengan menggunakan motor, mobil terbuka, dan kereta kelinci. Kebanggaan yang sungguh luar biasa pada mereka yang sudah lulus. Saya ingin seperti mereka, insyaallah sekitar 3.5 tahun dari sekarang. Semoga terealisasi.

Setelah perayaan tersebut selesai, kami kembali ke kampus. Kembali beraktivitas selayaknya mahasiswa lain untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya. Tapi mata tak mau terlepas dari kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah kakak tingkat kami. Mereka berdatangan bersama keluarga, bersama saudara-saudara mereka. Memakai kebaya, memakai jas, dan memakai toga.

Senin, 28 Januari 2013

Merah Hijau

imgfave.com

“Hai.” Sapa lelaki disamping Rinda.

Rinda hanya memberikan seulas senyuman. Tak ingin memberikan keributan kecil di perpustakaan D4.

“Mahasiswa baru?”

Rinda mengangguk. Tetap dengan senyuman.

“Jurusan apa?”

“Telekomunikasi. Kakak?”

“Elektro Industri.”

“Oh. Iya.”

Rinda melanjutkan membaca novel yang dia bawa kemanapun, termasuk ke kampus. Saat tak ada mata kuliah seperti ini, Rinda lebih memilih berdiam diri di perpustakaan D4 yang lebih nyaman dibandingkan dengan perpustakaan D3. Membaca novel dapat menyegarkan otaknya setelah memakan berbagai rumus-rumus Elektromagnetik, berbagai rangkaian listrik, Dasar Pemrograman, dan sebagainya.

Sabtu, 26 Januari 2013

Rinduku Memanggilmu

Hai bidadari yang diciptakan Allah untuk saya, malaikat pembawa kebahagiaan yang dititipkan Allah untuk dunia, IBU.

Bagaimana kabar ibu disana? Semoga ibu bahagia sebab kami disini masih dan akan tetap mengirimkan do’a-do’a terbaik untuk ibu.

Beberapa hari ini saya memimpikan ibu. Seakan-akan ibu masih ada di samping kami, menjadi wanita tercantik yang pernah saya temui, sampai kapanpun. Mempersembahkan kebahagiaan yang tak bisa didapat dari siapapun, yang tak dapat dicari kemanapun. Hanya satu, dari ibu.

Kemarin, saya menemukan secarik kertas. Berisikan keinginan saya, mimpi-mimpi saya. Saya masih ingat, kertas itu adalah sebuah surat yang saya khususkan untuk ibu. Surat pertama dan terakhir untuk beliau. Saya tak berani untuk menyampaikan secara langsung perihal apa saja yang saya inginkan, sehingga saya harus menulisnya agar pesan itu benar-benar tersampaikan, tanpa ditutup-tutupi. Setelah surat itu beliau baca, beliau mengungkapkan “Ibu juga ingin seperti ibu-ibu yang lain, yang bisa dekat dengan anaknya.” Saat itu juga, saya ingin menangis. Sungguh tak ada keberanian untuk menatap beliau, apalagi memeluknya. Saya hanya diam, mengangguk, dan pergi untuk menangis. Betapa bodohnya saya tidak bisa menggunakan kesempatan itu dengan baik.

Minggu, 20 Januari 2013

Menunggu Dengan Mengenangmu



Hujan menghunus bumi. Bertabrakan dengan atap-atap gedung pencakar langit dan rumah-rumah. Menghasilkan bunyi yang dapat menggoda emosi. Membuat lantunan lagu tak dapat tersampaikan dengan baik ke gendang telinga penikmatnya seperti kerinduan saya pada lelaki itu. (Mungkin) sampai kapanpun dia tak akan tahu kerinduan yang amat mencekam dan membunuh ini. Hujan. Kerinduan. Mereka tak akan pernah bersatu dan tak akan mau bersatu.

Saya kehilangan cara, kehilangan arah untuk menemukan kamu yang kemarin, yang selalu mengingatkan saya akan hal-hal sederhana. Dimana kamu sekarang? Akankah kamu nantinya kembali untuk sekedar menyapa saya dan mengucapkan selamat malam sebelum saya tertidur?

Harapan tinggallah harapan. Saya tak memungkiri agar kamu kembali lagi kesini. Kamu terlalu menarik perhatian saya.

Kamis, 17 Januari 2013

Tanpa Kepastian




Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu. Saya terlalu khawatir dengan keadaanmu saat ini. Saya juga tak berani untuk menyampaikan secara langsung, secara gamblang. Komunikasi itu hilang begitu saja tanpa alasan. Saya membutuhkan alasan.

Kali ini, biarkan saya mengalah. Biarkan saya diam dan menunggu jawaban yang tak pasti. Secepat mungkin saya benar-benar membutuhkan alasan kenapa kamu seperti ini.

Semalam, ada sesuatu yang tercipta. Kamu di mimpiku. Mimpiku, kamu menjadi sosok yang kemarin, bukan sosok hari ini. Kamu masih seperti dulu yang bisa membuat saya menjadi tenang tanpa alasan.

ketulusanku untuk menanti




Sungguh aku tak mengerti dengan pola pikirmu. Aku memang tak mau berbesar hati dan berbangga diri terlebih dulu, namun inilah yang terjadi pada cerita kehidupanku.

Kamu datang. Sepotong pesan singkat kala sore itu. Esoknya di jam yang hampir sama, kamu menghubungiku. Namun saat itu aku tak tahu sebenarnya siapa kamu. Dari sana kita berkenalan. 

Entah dengan cara apa, dalam waktu singkat kamu dapat mengalihkan duniaku, kamu dapat mengalihkan waktuku hanya untuk sekedar mengirimkan dan menerima pesan singkat. Sesederhanakah itu hal yang bernama cinta?

Aku tak ingin gagal lagi. Maaf, sepertinya bukan gagal, melainkan berhenti dalam berproses. Aku berusaha mengejar suatu ketidakpastian, sebab yang pasti hanya satu, kematian. Aku berusaha mengejar dan terus mengejar namun tetap dengan batas kewajaran.

Kamu, sederhana dengan berbagai perhatian yang kamu berikan. Wanita manapun pasti akan merasa dihargai saat ada seseorang yang memberikan perhatian sekecil apapun secara tulus. Termasuk berbagai hal kecil yang kamu berikan untukku. Benar-benar aku hargai, benar-benar ku berikan apresiasi, untukmu.

Rabu, 16 Januari 2013

masih kamu dan tak akan terganti


imgfave.com



lanjutan dari bertahan karenamu

Masih tak ada kemampuan dan tak ada kemauan untuk meninggalkanmu. Bayanganmu masih tertera jelas di setiap aliran darahku, di setiap detikku bernafas. Aku disini masih menunggu dengan atau tanpa bayangmu. Terlalu sulit jika aku harus meninggalkan dan menghapus perasaan yang sudah lama ku ukir. Aku masih akan mempertahankan perasaan ini, sebagaimana kamu mempertahankan rasamu terhadap wanita itu.

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Menunggu.”

“Sedangkal itukah otakmu hingga harus menunggu seseorang yang jelas-jelas telah menunggu wanita lain?”

“Bukan dangkal. Melainkan perasaan ini terlalu berharga untuk dihapus. Aku masih belum mampu berdiri tanpa dia.”

“Berdiri tanpa dia? Sampai kapanpun; kemarin, sekarang, atau nanti, kamu tetap berdiri dengan bayangannya. Bayangan! Bukan dia!”

Hening.

Senin, 14 Januari 2013

Usaha, Resistor, dan Kebahagiaan



Hatiku jatuh di kamu. Sesederhana inikah perasaan yang bernama cinta? Perasaan yang membuat beberapa orang terbang dan jatuh. Bagi mereka yang kuat dan tahan banting; layaknya batu, kemanapun cinta itu berlari pasti akan dia kejar. Pasti akan dia raih dengan berbagai usaha. Usaha yang bernilai, bukan 0 Joule. Usaha yang didapatkan dari perkalian antara gaya dan perpindahan. Jika tak ada gaya dan perpindahan, maka tak akan menimbulkan usaha. Cinta tak akan terkejar, tak akan tercipta. Seperti itu.

Bagiku, cinta seperti rangkaian seri. Menjumlahkan resistor satu dengan resistor yang lain secara murni. Bukan seperti rangkaian paralel yang menjumlahkan nilai resistor yang satu dengan yang lainnya dengan langkah membagi terlebih dahulu.  Jadi cinta itu menyatukan. Bukan memisahkan. Apalagi menyakiti. Terlebih membagi. Bukan! Bukan itu!

Mengenal. Dekat. Bersatu. Berpisah. Itukah proses mencintai seseorang? Jika memang iya, kenapa harus berpisah? Bukankah cinta menyatukan aku dan kamu. Menyatukan kita dengan semesta.

Sabtu, 12 Januari 2013

bertahan karenamu


imgfave.com
            Cintaku mendatangimu. Mengoyak kehidupanmu tanpa kamu ketahui. Menghibur lara hati saat tak ada seseorang pun disini, di hatiku. Aku menyukaimu. Sebentar! Mungkin tepatnya aku mengagumimu secara diam-diam. Sepertinya gabungan kata itu maknanya lebih dalam dibandingkan kalimat yang sebelumnya.

            Dia, tipe orang yang pendiam. Berucap saat dirasa penting. Di kelas, kamu tergolong mahasiswa yang jenius. Walaupun kamu lebih suka duduk di pojok dan selalu datang saat beberapa detik sebelum mata kuliah dimulai, tapi otak mu lebih emas dibandingkan mereka-mereka yang merasa sok pintar, yang mengambil hati para dosen. Masa bodoh dengan perlakuan mereka sebab kamu sudah mengalihkan duniaku. Kamu, membuatku kurang peduli dengan orang-orang seperti mereka; sok pintar, sok perhatian, sok baik, dan semuanya yang membuatku muak.

            Sudahlah! Lupakan mereka dan biarkan impuls dalam otakku merambat dari sel saraf satu ke sel saraf yang lain untuk memikirkanmu. Saat ini dan nantinya, aku hanya ingin kamu yang akan memenuhi setiap aliran darah dalam tubuhku.

Sabtu, 05 Januari 2013

terakhir I


"Pia, kamu ada duit?"

"Ada, Sia. Kenapa emangnya?"

"Aku pinjem!"

"Buat apa?"

"Gak usah tanya-tanya. Sekarang mana duitnya? Cepet!"

Mau tak mau Pia mengeluarkan uang kertas berwarna merah sebanyak 5 lembar. Dia sedikit berat hati saat memberikan uang itu. Pia takut uang hasil jerih payahnya sebagai penulis digunakan untuk hal-hal yang tidak baik oleh sahabatnya, Siahaya. Tapi melihat sahabatnya yang begitu membutuhkan uang, dia menjadi tak tega. Pia harus memberikan uang itu.

Saat Pia akan bertanya lagi untuk apa uang itu, ternyata Sia langsung meninggalkannya. Meninggalkan sahabatnya yang duduk di bawah lampu temaram senja dengan berbagai pertanyaan yang mulai muncul. Pertanyaan yang tidak diketahui apa jawabannya dan kapan jawaban itu bisa ditemukan.

"Ada perasaan aneh disini." Pia menunjuk hatinya. "Semoga ini hanya perasaanku. Semoga feeling yang selalu benar itu untuk sementara hilang. Aku tak mau terjadi hal tidak baik pada sahabatku." Lanjutnya.

***
Sejak peristiwa minggu sore itu, Pia merasa ada yang berbeda dengan Sia. Hampir satu tahun mereka tak bertatap muka. Pia sedikit tidak mengerti dengan perubahan Sia. Dia mulai mencari informasi pada teman-teman lama.

Memelukmu Bahagia Ku


Saat seseorang sudah pergi dari kita, tak banyak yang dapat kita lakukan. Kita hanya mampu melakukan beberapa hal, tapi tak ada kontak langsung dengannya. Hanya dari jauh dan entah tersampaikan dengan baik atau tidak.

Seperti sesuatu yang saya lakukan pada seseorang yang sangat saya sayangi. Seseorang yang sudah mendidik saya dari kecil sampai dewasa. Satu hal yang dapat saya lakukan untuknya, dan yang insyaallah sampai kepadanya dengan baik. Ya, saya hanya mampu memeluknya dengan do'a-do'a yang selalu terucap saat sholat ataupun saat berdo'a. Hanya hal tersebutlah yang dapat saya berikan untuk beliau setelah beliau meninggalkan kami.

Setelah sholat, saya hanya mampu mengucap kata untuk ibu agar Allah mengampuni dosa-dosanya, agar Allah mampu menerima semua amalan-amalan ibu; membacakannya surat al-Fatihah ataupun membacakan surat Yaasin untuknya. Terkadang saya datang ke makam beliau, menyapa beliau disebelah gundukan tanah yang diatasnya terdapat batu nisan putih bertuliskan nama ibu.

Seperti itulah yang dapat saya lakukan untuknya. Hanya mampu memeluknya dari jauh dengan do'a-do'a. Hanya mampu mengingat berbagai kenangan-kenangan yang sudah tercipta.