Rabu, 28 November 2012

biarkan aku menjauh

Aku memanggilmu Senja. Semua orang juga tahu akan itu. Kamu menenangkan. Kamu istimewa. Kamu mendamaikan. Dan tentunya, kamu berbeda dari yang lain. Itu yang ku rasakan 'beberapa minggu yang lalu'. Ada rasa yan tersimpan di hati. Aku meyakinkan hati, meyakinkan rasa, meyakinkan mata. Apakah itu benar-benar perasaan SUKA ku terhadapmu?

Lambat laun, aku merasakan ada yang berbeda. Rasa itu berubah. Rasa itu berkurang. Bahkan mungkin sekarang rasa itu menghilang. Seperti ada sesuatu yang membuat rasa itu lenyap. Otakku sudah tak mampu memprediksikan apa yang akan terjadi antara kita. Memoriku berkurang mengenai semua hal yang menyangkut tentang kamu. Bahkan telah hilang. Hanyut terbawa masa. Hanyut terbawa waktu. Mataku sudah tak mampu bergerak melihat display picture mu. Tanganku juga sudah tak mampu mengetikkan kata-kata di BBM mu.

Kamis, 15 November 2012

Ibu

Pernahkah kalian memimpikan seseorang? Tanpa dijawab pun pasti saya dan semua orang sudah mengetahui. Kalau memimpikan seseorang yang sudah tiada bagaimana? Mungkin hanya sebagian orang yang mengalami seperti itu. Terlebih memimpikan seseorang yang sudah meninggal dan dia tersenyum saat kita melihatnya. Itu yang ku alami dengan mimpi yang sore tadi terlukis.

Beliau tersenyum seperti menyapaku, mengingatkan aku untuk sholat ashar, kebetulan mimpi itu datang sekitar jam 3 sore. Mungkin itu maksud beliau datang ke mimpiku. Sosok yang sangat aku sayangi, yang sangat aku rindukan kehadirannya. Ketegasannya dalam mengambil keputusan adalah hal yang sangat aku sukai. Terlebih saat beliau berbicara "Jangan pernah jawab terserah." Dengan kalimat seperti itu secara tak langsung beliau mengajariku menjadi seseorang yang berprinsip. Dan sampai sekarang pun alhamdulillah selalu aku terapkan.

Jumat, 02 November 2012

Untuk Beliau, Pendamping Almh. Ibu

Tegas. Simple. Berprinsip. Mandiri. Baik. Penyayang. Ya, beliau, my hero. Pejuang hidup dalam keluarga saya selain almarhumah ibu. Orang yang sampai saat ini masih bersama saya dan adik saya, mendampingi kami dalam suka ataupun duka. Beliau, yang selalu mengatakan iya atau tidak dalam setiap perbuatan kami. Beliau, yang selalu melarang kami yang sekiranya hal yang ingin kami lakukan tidak seperti yang beliau harapkan. Sejak saat itu, 24 Juli 2012, beliau lebih menjaga kami karena hanya kami-lah yang beliau punya di rumah ini.

Disaat saya akan berangkat ke kampus, yang tak pernah beliau lewatkan adalah "hati-hati di jalan. Makannya jangan telat." Padahal dulu beliau tidak seperti ini, tidak ada perhatian ekstra seperti sekarang. Beliau juga tidak pernah mengeluh pada kami ataupun orang lain. Kami harus mencontoh itu, seharusnya. Beliau selalu bangun pagi, mengeluarkan mobil dan tak jarang juga memasakkan kami sarapan dan selalu membuatkan kami teh hangat. Kesibukan saya di kampus membuat saya tidak ada waktu lebih untuk memasakkan makanan untuk bapak dan adik.