Selasa, 29 Desember 2015

Rindu

Bagiku, rindu itu seperti pengharapan. Pengharapan pada seseorang yang jauh di depan sana. Yang entah bisa digapai atau tidak. Yang entah bisa dipeluk untuk meluapkan luka atau tidak. Rindu, sesakit itukah ia hingga membuat orang berharap?

Bagiku, rindu adalah kekecewaan. Rindu pada ia, sedangkan ia tak membalas itu. Sedangkan ia sedang tertawan dengan bahagianya. Semengecewakan itukah ia yang bernama rindu?

Kamis, 03 Desember 2015

Hidup Tak Mau. Mati Pun Enggan.

Bagai senja yang lahir di pelupuk mata, aku menyukaimu seperti itu. Bagai senja yang beranjak menjadi pekat, ketakutanku seperti itu. Menjadi gelap. Menjadi kelam. Dan tercipta jarak. Jauh. Amat jauh. Hitam. Dan amat hitam. Kemudian lari terbirit-birit meninggalkan kegembiraan.

Tak mau mendekat karena takut. Tapi juga tak berani menjauh karena ketakutan yang sama. Seperti pohon kering yang tak mau beranjak untuk segera mati dan menggugurkan rantingnya atau layaknya pohon kering yang enggan untuk diramaikan kehidupannya dengan dedaunan lagi. Mau jatuh tak mau. Mau berdiri pun tak yakin. Ketakutan yang memuncak. Keberanian yang acap kali enggan untuk didirikan.

Dasar manusia! Tak yakin dengan dirinya sendiri. Maunya berjuang sekenanya. Maunya berkeinginan tinggi tapi tak mau merugi. Katanya mau berjuang tapi ada risiko tepat di depannya lalu mengundurkan diri. Maunya apa? Hidup tak mau. Mati pun enggan.

Jumat, 16 Oktober 2015

Nyampah Itu Gak OK

Hai. Apa kabar kamu hari ini? Alhamdulillah, setelah lebih dari 1 bulan, hari ini saya mencoba memanfaatkan waktu yang ada buat nge-blog sebentar. Sama seperti sebelumnya, saya mencoba sharing mengenai kegiatan-kegiatan saya. Maunya nulis fiksi lagi tapi kok ya masih belum ada waktu buat "mikir". Next time semoga sempat, ya. Hehe

Beberapa waktu yang lalu, HiLo Green Community Surabaya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan komunitas-komunitas yang ada di Surabaya. Kegiatan ini diadain sama "Sobat Bumi Surabaya" bertemakan "REMOVE" atau Resik-resik Mangrove. Hm, resik-resik mangrove? Kira-kira apa yang teman-teman pikirkan? Bersih-bersih mangrove? Jelas. Tapi gimana caranya? Pakek sapu? Di darat apa laut, ya? Bukan, bersih-bersihnya pakek tangan, bukan sapu. Soalnya bukan bersih-bersih debu. Tapi kita "nyampah". Resik-resik ini dilakuin di pesisir mangrove Wonorejo. Kurang lebih ada 10 komunitas yang terlibat di acara ini. Bersih-bersih mangrove dilakuin sekitar 2 jam. Dan tau berapa sampah yang didapat? Banyak banget! Parah! Trash bag dan karung sebanyak 20 biji gak bakal muat buat ngangkut sampah segitu banyaknya ke daratan.

Minggu, 06 September 2015

Gradasi Biru Langit dan Pantai Kedung Tumpang

“Travel is the only thing you buy that makes you richer.” – Anonymous

Saya sangat setuju dengan quote di atas. Traveling, touring, ataupun backpacker menurut saya tak membuat seseorang menjadi miskin. Tapi malah membuat seseorang menjadi kaya. Sebab pengalaman tak pernah bisa dibeli dengan uang. Kedamaian melihat lukisan Tuhan indah tiada duanya. Lekukan bukit, rimbunnya pepohonan, ombak laut yang bergulung-gulung tak akan pernah bisa dibeli apalagi dibuat oleh manusia.

Desember 2014 kemarin, saya berkesempatan touring ke Pacitan. Baca di sini. Target saya setelah melakukan touring itu, saya ingin kembali ke Pacitan di tahun 2015 sebab saya belum meng-explore Pacitan secara keseluruhan. Tak bermain air laut rasanya tak lengkap. Dan alhamdulillah, Mei 2015 saya kembali lagi ke Pacitan. Lalu, 3 bulan setelah itu saya pun punya keinginan lagi buat melakukan perjalanan. Kali ini saya memilih Tulungagung sebagai tujuan perjalanan selanjutnya.

Saya tak sendiri. Maunya, saya bergabung dengan teman-teman di kelas lain untuk berlibur. Bareng sama cewek cowok kelas lain. Tapi karena sesuatu hal, akhirnya berangkat cuma berempat dan cewek-cewek semua. Oke, bukan masalah. Sebelumnya kami juga sudah memikirkan bagaimana kalau nemu case-case terburuk. Misal, kita gak dapet tumpangan ke pantai. So, harus jalan kaki (?). Tapi alhamdulillah ternyata ada temennya temen yang lagi touring juga dan akhirnya kami gabung sama mereka.


Senin, 10 Agustus 2015

EduGreen HGC Surabaya ft KKN TEMATIK UNAIR


Hai. Jumpa lagi sama saya. Ternyata lama juga gak nulis dengan alasan berbagai kesibukan road to mahasiswa tingkat akhir. Curhat dikit ya, kemarin saya baru kelar Sidang Proposal Proyek Akhir dan Sidang Kerja Praktek. Alhamdulillah 2 sidang itu udah saya lampaui. Setelah ini masih ada 2 sidang lagi yang harus saya lakoni. Inysa Allah nanti ada Sidang Progress dan Sidang Akhir. Do’akan prosesnya bisa saya lalui dengan baik dan September 2016 saya bisa wisuda, ya. Aamiin.

Cewek-cewek hore waktu Sidang Kerja Praktek
Partner Tugas Akhir
Selain disibukkan dengan kegiatan kuliah, kemarin saya juga masih sibuk bareng HIMA TELKOM atau Himpunan Mahasiswa Telekomunikasi. Alhamdulillah sekarang udah lengger. Rasanya lega tapi juga sedih karena gak bisa menjalankan amanah dengan baik. Jadi sekarang kesibukan saya selain kuliah masih ada satu lagi. Saya masih aktif di komunitas hijau yang udah saya ikuti kurang lebih 1 tahun yang lalu. Pasti udah pada tau, komunitas itu gak lain dan gak bukan adalah HiLo Green Community Surabaya.

Rabu, 01 Juli 2015

Ngabuburit Hijau - HGC Surabaya

Dewasa ini, kesadaran masyarakat akan lingkungan semakin menipis. Banyak diantara mereka yang masih membuat sampah tidak pada tempatnya, membuang sampah sembarangan di sungai atau tempat umum, pun kerap kali menggunakan plastic bag. Padahal hal sekecil itu jika dilakukan apalagi secara terus-menerus dapat membuat bumi kita semakin menangis. Layu karena tak diurus dan disayangi oleh penghuninya.

Sehingga, kita sebagai muda-mudi harapan Indonesia harus memiliki aksi yang nyata untuk menyelamatkan lingkungan. Aksi nyata tersebut tidak harus berupa aksi nyata yang besar-besaran. Tapi dapat kita mulai dengan hal kecil terlebih dahulu. Jika dilakukan terus-menerus akan menjadi kebiasaan dan tentunya berdampak positif untuk bumi tercinta, bukan? Selain gerakan-gerakan itu pula juga perlu dilakukan edukasi ke setiap lapisan masyarakat. Karena ilmu akan lebih bermanfaat jika dibagi ke sesama.

Maka berangkat dari situ terbentuklah Hilo Green Community Surabaya yang memiliki visi dan misi yang sama untuk proses awal menyelamatkan lingkungan. FYI, Hilo Green Community atau HGC ini sudah menjamur di Indonesia. Tidak hanya ada di Surabaya tetapi juga ada di 17 kota lain di Indonesia. Seru bukan? 

Senin, 08 Juni 2015

Ranger Hijau

Alam adalah bagian dari manusia. Pun manusia adalah bagian dari alam. Keduanya saling berkaitan. Keduanya saling membutuhkan. Jika mereka tak berdampingan, pasti tak akan bisa menjalani kehidupan yang telah dianugerahkan Tuhan.

Berangkat dari situ, kumpulan muda-mudi yang mayoritas menetap di Surabaya ikut bergabung dengan Hilo Green Community Surabaya yang dinaungi oleh Nutrifood. Sekumpulan orang yang membentuk komunitas peduli lingkungan itu merencanakan berbagai program kerja yang dapat memberikan manfaat tidak hanya untuk pelaku-pelakunya tetapi juga untuk lingkungan. Sekecil apapun gerakan itu, jika dilakukan terus menerus pasti akan menuai manfaat. Salah satu program kerja yang dilaksanakan HGC (Hilo Green Community) ini adalah Panti Binaan yang dilaksanakan bersama Panti Asuhan Aisyiyah II, Jambangan.

Program kerja yang dipegang Fikri (mahasiswa semester 6 Sistem Perkapalan, ITS) ini direncanakan berjalan selama 3 bulan. Untuk pelaksanaannya dilakukan setiap 2 minggu sekali. Kegiatannya bermacam-macam dan tempatnya pun tak melulu di Panti Asuhan. Perkenalan, Vertical Garden, Tanam Mangrove, Group Discussion, Post Test, dan Closing Ceremony di Kebun Binatang Surabaya sekaligus edukasi adalah silabus Panti Binaan ini.


Jumat, 22 Mei 2015

Ajakku Melantunkan Lagu Lagi

Dokumentasi Pribadi
Serasa baru kemarin aku melihatmu di salah satu sisi sebuah cafe. Menikmati secangkir cappucinno panas yang masih setia mengepulkan asap. Menghangatkan ruangan, menghangatkan tubuh, dan menghangatkan perasaan. Lalu kamu tersenyum dibalik kacamata hitam yang kamu kenakan setelah kamu menyesap minuman favorit jutaan umat itu. Senyum yang menyebabkan candu pada yang melihatmu.

Lalu kita mengenal satu sama lain. Uraian cerita masing-masing diantara keduanya melengkapi kekurangan yang ada. Membuat candu dan ingin menambah dan terus menambah. Entah apa yang kamu masukkan dalam kopiku ketika kita menghabiskan sore bersama di sudut cafĂ©. Yang membuatku tertagih denganmu.

Senin, 13 April 2015

Namaku Sepi

Jepretan Sendiri

Aku enggan kembali. Aku tak mau pergi dari kenyamanan. Aku ingin menetap. Aku malas untuk maju atau mundur. Aku ingin di sini. Bersama dia, seseorang yang telah lama terbelenggu akan diriku. Melihatnya, aku tak mau pergi. Karena jika aku pergi, dia pasti akan sendiri. Tak ada yang menjaga. Tak ada yang menemani.

Kau tahu? Ia suka sekali menunggu. Entah konsep apa yang ada dalam otaknya sehingga membuatnya menyukai hal yang menyebalkan bagi kebanyakan orang itu. Mungkin otaknya sedang sekarat atau kesemutan. Sehingga sulit untuk dipergunakan secara normal. Atau mungkin dia malah telah kehilangan otaknya? Entahlah.


Rabu, 25 Februari 2015

Perpindahan Manis

Selamat malam, Tuan.

Lagi-lagi malam membangkitkan temu untuk kita melalui seulas surat yang entah sampai kepadamu atau tidak. Kamu membaca atau tidak, yang terpenting saya mengabadikan ini. Mengabadikan rindu pada deretan kata yang semoga sedikit menyembuhkan selain sujud yang saya tunaikan dengan menyematkan namamu.

Bagaimana kabarmu, Tuan? Maaf, selalu pertanyaan itu yang terlintas dan memenuhi kepala saya. Saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Masih menjalani hari dengan berkeliling dari satu kota ke kota lain untuk menyelesaikan pekerjaan yang katamu berat itu. Tuan, berat atau tidak pekerjaanmu, saya yakin kamu mampu melewati semua ini dengan baik. Saya yakin kamu mampu menggenapkan keganjilan yang kerap memenuhi setiap inci otakmu. Saya yakin itu, Tuan.

Sudah membaca surat yang saya tulis sebelum ini? Belum? Ah, bacalah terlebih dulu, Tuan. Sebab ini seperti fragmen yang sengaja saya buat untuk membekukanmu. Takutnya ketika kamu membaca ini, kamu tak memahaminya.

Saya mengagumimu seperti yang pernah saya tulis sebelumnya. Menghangatkan, sopan, bersahaja, dan sabar. Tapi ternyata ada banyak hal yang belum saya tulis ketika itu. Ada banyak lekukan kekosongan yang belum saya penuhi. Dan malam ini, saya ingin memenuhi semua itu. Berharap keganjilan yang ada menjadi genap. Utuh. Menjadi satu. Tak terpisah-pisah.

Sabtu, 14 Februari 2015

Katanya Cinta Itu

Selamat tengah malam, kepada kamu yang baru saja saya ketahui. Kepada kamu yang baru saja saya kenal. Kepada kamu yang baru saja saya temui secara tak sengaja. Kepada kamu yang baru saja membuat saya terpikat pada temu yang pertama.

Opini pertama pada temu pagi kala itu, kamu begitu menghangatkan. Kamu begitu sopan. Kamu begitu bersahaja. Dan tentunya kamu begitu sabar. Subhanallah, dengan baik hati Tuhan menyematkan namamu dalam rentetan cerita perjalanan hidup saya. Kali ini Tuhan berbaik hati (lagi). Dia menyematkan (sedikit) cerita bersamamu dalam keseharian saya. Sederhana namun membahagiakan.

Lambat laun, diam-diam saya mengamati kamu. Mencari tahu pada ketidaktahuan saya. Mencari tahu pada keterbatasan saya. Pada ketakberdayaan saya. Mencari dan terus mencari. Apa saja, mengenai kamu.

Esoknya, tanpa diduga yang kata kamu libur, ternyata saya melihatmu. Bukan ilusi. Degup kencang, bahagia, dan malu-malu bercampur menjadi satu. Benarkah itu kamu?

Ah, Tuan, begitu lembutnya kamu sehingga membuat saya terpikat. Membuat letupan-letupan kecil yang telah lama hilang muncul kembali. Tuan, sebenarnya sejak senja gerimis di tepian kota itu kamu sudah merenggut sebagian dari sesuatu yang telah lama ingin saya bagikan. Disela-sela kesibukanmu yang maha dahsyat, disela-sela pekerjaan yang tak tahu diri padahal Tuannya ingin istirahat, kamu tak ingin menduakan-Nya. Kamu tetap ingin melantukan asma-Nya di manapun kamu berada. Sungguh, Tuan, hal seperti itu membuat saya benar-benar terpikat. Letupan-letupan itu semakin membakar apapun yang ada di sekitarnya. Subhanallah.

Selasa, 10 Februari 2015

Mengantri Kepulangan



Kepada kamu, sahabat yang selalu mendengar, mengerti, dan membaca semua suka dan luka.

Sudah baikan hari ini? Aku harap demikian.

Hei, sahabat, kehilangan memang tak mudah. Butuh waktu untuk menyembuhkannya. Tapi kamu tahu, kepulangan pasti akan terjadi. Pada mereka ataupun kita. Semuanya. Semua orang akan berpulang ke tempatnya masing-masing. Seperti ketika kita berangkat ke kampus, sore atau malamnya kita kembali pulang. Seperti itu pula yang terjadi pada kehidupan. Akan berangkat, menjalani rasa-rasa dalam perjalanan, kemudian kembali pulang. Pulang kepada-Nya. Pada damai-Nya.

Ikhlaskan beliau yang telah berpulang dengan tenang. Terlebih beliau sudah berpamitan denganmu, dengan keluargamu. Sebab tak semua orang akan berpamitan ketika ia akan pulang. Aku merasakan itu, ketika beliau akan berpulang, beliau meninggalkanku terlebih dulu. Kemudian ketika nafasnya tak kurasakan lagi, aku baru kembali. Aku baru tahu bahwa ternyata beliau telah dijemput untuk kembali ke tempat yang lebih nyaman. Ke tempat yang lebih tak menyakitkan, tanpa infus, tanpa selang yang menancap ke mana-mana, tanpa kesakitan, dan tanpa lapar.

Senin, 09 Februari 2015

Kepada Dia Yang Telah Berjalan Jauh



Hai.

Ah, begitu sulitnya menyapamu dengan kalimat yang panjang. Lagi-lagi sekadar “hai”. Mungkin ada kesalahan pada mulut, lidah, tenggorokan atau apalah itu. Rasanya mereka tak mau berdamai untuk membahagiakan pemiliknya. Sepertinya mereka sedang beradu satu sama lain dan ketiganya tak mau mengalah. Lupakanlah itu. Aku hanya ingin bercerita kepada kamu, Tuan penyuka warna hitam.

Tuan yang suka bermain futsal, ternyata begitu lama aku tak menulis tentangmu. 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan. Mmm, sepertinya lebih dari itu. Jika kuhitung-hitung lagi ternyata sekitar 7 bulan. Begitu lama, Tuan. Entah apa saja yang membuatku lupa dan berjalan sedemikian rupa.

Tuan yang sedang suka naik gunung,  lihatlah. Tak ada lagi hujan yang turun di pagi, siang, bahkan malam hari. Tak ada lagi geledek yang membuat telinga serasa hancur ditengah panasnya hawa Surabaya. Semua itu tak ada lagi, Tuan.

Sebagaimana berjalan mencapai tujuan, aku mampu melakukannya dengan baik. Walau terkadang harus ada sesuatu yang membantuku berjalan. Walau terkadang aku harus jatuh lalu kemudian bangkit lagi. Jatuh, bangkit, jatuh, dan bangkit lagi. Terus seperti itu hingga aku mampu berjalan agak lama dari sebelumnya. Aku melakukan itu, Tuan penggila Juventus. Melakukan hal yang seharusnya kulakukan denganmu. Tapi aku tahu, tak ada lagi kamu yang membantuku berjalan di bawah siraman hangat matahari pagi maupun senja yang terkadang mengiris hati.

Kepada Kamu Yang Pernah Menjadi Yang Terbaik

Halo, Kamu.
 
Menyapamu seperti itu rasanya begitu berat. Mulut rasanya kelu. Tak bisa berkata banyak. Ada semacam ketakutan tapi bercampur dengan kerinduan. Kerinduan yang telah melepuh, membengkak tapi kemudian bernanah karena tak menemukan obat yang diharapkan. Begitu banyak cerita yang sebenarnya ingin disampaikan. Begitu banyak pertanyaan yang ingin diungkapkan. Tapi entah kenapa, hanya itu yang keluar dari bibir.

Lalu keduanya berjalan menuju arah yang berbeda. Salah satu menoleh ke belakang. Berharap salah satunya juga demikian. Ada harap yang tak sampai. Ada kata yang tak dapat terucap. Ada rindu yang tak terbalas. Ada banyak cerita yang ingin disampaikan. Bahu yang dulu sempat disinggahi, inginnya dirasakan kembali. Inginnya. Kenyataannya tak demikian.

Memilukan? Mungkin begitu. Menyakitkan? Bisa jadi seperti itu. Tapi hidup untuk disyukuri bukan?

Terkadang aku masih mengenangmu. Apa itu salah menurut kacamatamu?

i found here
Bagi sebagian orang sepertinya tidak. Mengenang bukan berarti menginginkan untuk kembali. Bukan pula masih berdiri di tempat menunggu dia kembali. Ingin berbalik arah lalu menjadi bahumu lagi. Bukan. Sama sekali bukan itu. Tak ada yang melarang bukan jika kita mengingat seseorang yang pernah menjadi yang terbaik?


Sabtu, 17 Januari 2015

(Jika) Kau Masih Menetap

Ku buka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatmu

Kata mereka, diriku selalu dimanja
Kata mereka, diriku selalu ditimang



Hai, Ibu. Apa kabar di sana?
Baik-baik saja bukan? Ah, kenapa selalu pertanyaan itu yang kutanyakan ketika aku mulai menulis? Mungkin karena aku tak pernah mengetahui kabarmu lagi? Begitukah, Ibu? Walaupun aku tak tahu bagaimana keadaanmu disana, ku harap kau memang baik-baik saja. Sebab aku (hanya) mengirimkan cerita dalam do'a tiap kali selesai bersujud. Ku harap kau tahu, Ibu. Pun sampai saat ini masih ada tangis yang datang tiap kali aku menyebut namamu dalam sujudku. Berharap semua itu dapat mengobati segala luka yang sampai kapan pun tak akan pernah terobati. Sampai kapan pun dan oleh siapa pun, sama sekali tak ada yang bisa mengobati. Kecuali kau, Ibu. Wanita cantik yang tak akan pernah kembali ke dunia ini lagi yang bisa mengobati perihal semua luka ini.

Jumat, 09 Januari 2015

Kisah di Balik Proposal Cinta

Alhamdulillah. Cuma itu yang keluar dari mulut saya waktu dapet email Surat Penerimaan Kerja Praktek di PT NEXWAVE. Seusai adzan, setiap kali bersujud, dan seusai sholat, saya selalu menyempatkan berdo'a agar "proposal cinta" kami diterima oleh sub-contractor yang terletak di jalan Mayjend Sungkono, Surabaya itu.

Cukup membuat hati galau juga selama beberapa bulan ini. Serasa dibolak-balik dan diputar-putar tak tentu arah serta tak tahu kapan berhentinya. Seperti layangan yang ditarik-ulur, entah akan terbang tinggi atau malah bakal jatuh berdebam. Ah, mungkin seperti itulah rasanya.

Kami apply proposal sejak akhir November 2014. Mengirimkan proposal ke sana bukan tanpa pertimbangan. Bahkan penuh pertimbangan. Sangat. Ibaratnya, kami akan bermain judi. Sebab kata kebanyakan orang "Bakal keterima kalau ada proyek.". Nah lalu gimana kalau gak ada proyek? Pertanyaan pertama. Pertanyaan kedua, "Gimana kalau ternyata ditolak? Cari perusahaan mana lagi yang mau nerima kita H minus sekian hari?". Begitulah seterusnya hingga pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan padahal pertanyaan sebelumnya tak terjawab. Sehingga kami nekad. Berbekal niat, keberanian yang dibalut dengan do'a, kami mengirimkan proposal itu. Bismillah.

Saya dan rekan saya, Zaim, siang hari berangkat ke kantor Nexwave. Belum pernah ke sana sebelumnya. Cuma berbekal alamat dan sedikit pengetahuan tentang jalanan Surabaya, kami berangkat. Juga mengandalkan feeling yang berbuah penemuan alamat yang kami tuju. Sampai di sana langsung mencari HRD.

"Sekarang masih belum ada proyek. Nanti kalau ada proyek dikabarin, kok. Proposalnya ditaruh dulu aja."

Minggu, 04 Januari 2015

Penutup Manis Akhir Tahun

Hai. Selamat gini hari. Gak kerasa, ya, ternyata 2014 udah abis. Dan buat menutup 2014 dengan manis, saya mencoba ngelakuin hal baru yang belum pernah saya lakuin. Apa itu?

Touring.

Saya menyebutnya manis sebab saya tak pernah melakukan sebelumnya. Selain itu melakukan ini bukan dengan mereka-mereka (TELKOM, SKI 2014, atau EBC).

Perjalanan ini dimulai hari jum'at tanggal 26 Desember 2014. Berangkat dari rumah, kemudian saya berlanjut ke Terminal Bungurasih, Sidoarjo. Ah, terminal. Kamu tahu? Baru kali ini saya naik bus sendirian dan untuk perjalanan yang cukup jauh pula. Ha ha. Terkadang lucu juga, umur sudah menginjak 21 tahun tapi naik bus sendirian belum pernah saya lakukan. Dan, yeay! Tahun 2014 saya bisa melakukan itu. Ha ha ha.

Oke, cukup. Lupakan naik bus sendirian di umur yang sudah menua seperti ini. Ah, cukup memalukan untuk saya melakukan kejujuran yang seperti itu. Ha ha.

Menunggu dari jam 07.00, akhirnya saya baru mendapat bus Panda jam 08.15. Sengaja saya memilih bus itu padahal bus lain tujuan Madiun sebenarnya amat banyak. Mengapa? Karena saya ingin menikmati semua perjalanan ini. Walaupun terkadang menunggu itu menjemukan bagi sebagian orang.

Sekitar jam 08.30, bus mulai meninggalkan pangkalan. Perjalanan cukup melelahkan pun dimulai. Macet bukan hal baru lagi di hari libur seperti ini. Yang bisa dilakukan di bus hanya duduk, duduk, dan duduk. Beruntunglah karena tak berdiri. Akhirnya jam 13.00 sampailah di Kota Madiun. Hampir 5 jam dihabiskan untuk perjalanan ini, padahal normal perjalanan Surabaya-Madiun sekitar 3-4 jam saja.

Sampai di sana, mampir bentar mendamaikan perut yang keroncongan dan menghabiskan senja di rumah saja. Malamnya, barulah menjelajah Kota Madiun. Saya suka malam, udara malam, dan sejenisnya itu. Sehingga saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan manis itu. Mencoba angkringan yang ada, salah satunya. Selesai itu saya mengistirahatkan badan sebab esok harus menempuh perjalanan lagi ke Pacitan dan Ponorogo.

Sabtu, 27 Desember 2014

Kami memulai perjalanan jam 7 pagi dari Metesih, Jiwan, Madiun. Pacitan adalah tujuan utama kami, tepatnya pantai Klayar. Janji sudah kami susun dengan rapih, yaitu bertemu dengan beberapa teman kuliah di pantai yang berdekatan dengan Wonogiri, Jawa Tengah.

Matahari jam 7 pagi. Perjalanan dimulai

Sabtu, 03 Januari 2015

Buku yang Dibaca di 2014

Berikut adalah buku-buku yang pernah saya baca. Sangat sedikit, memang. Tapi, ya, lumayanlah buat mahaiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) macam saya. Ha ha.

Berdasarkan statistik Goodreads hanya segini yang saya baca. Mm, mungkin ada beberapa yang lupa saya cantumkan. Semoga di tahun ini kecatet semua, ya. Dari buku apa aja yang saya baca sama duit buat beli buku-buku. He he.


Last Minutte in Manhattan - Yoana Dianika
Barcelona Te Amo - Kireina Enno
Swiss - Alvi Syahrin
Tokyo - Sefryana Khairil
Kata Hati - Bernard Batubara
99 Cahaya di Langit Eropa - Hanum Salsabiela Rais
The Hunger Games - Suzanne Collins
Catching Fire - Suzanne Collins
1Q84 - Haruki Murakami
Before Us - Robin Wijaya
Bumi Cinta - Habiburrahman El-Shirazy
Mockingjay - Suzanne Collins
Surat Untuk Ruth - Bernard Batubara
Bumi -Tere Liye
Bulan Terbelah di Langit Eropa -  Hanum Salsabiela Rais
Negeri Van Oranje - Wahyuningrat
Athena - Erlin Natawiria
My Idiot Brother - Agnes Davonar

Semua buku ini hanya berjumlah 6599 halaman. Sangat sedikit dan mengecewakan. Hanya 18 buku dan target saya tak tercapai.

Semoga lebih baik lagi di tahun 2015. Semangat!