Laman

Senin, 09 Februari 2015

Kepada Kamu Yang Pernah Menjadi Yang Terbaik

Halo, Kamu.
 
Menyapamu seperti itu rasanya begitu berat. Mulut rasanya kelu. Tak bisa berkata banyak. Ada semacam ketakutan tapi bercampur dengan kerinduan. Kerinduan yang telah melepuh, membengkak tapi kemudian bernanah karena tak menemukan obat yang diharapkan. Begitu banyak cerita yang sebenarnya ingin disampaikan. Begitu banyak pertanyaan yang ingin diungkapkan. Tapi entah kenapa, hanya itu yang keluar dari bibir.

Lalu keduanya berjalan menuju arah yang berbeda. Salah satu menoleh ke belakang. Berharap salah satunya juga demikian. Ada harap yang tak sampai. Ada kata yang tak dapat terucap. Ada rindu yang tak terbalas. Ada banyak cerita yang ingin disampaikan. Bahu yang dulu sempat disinggahi, inginnya dirasakan kembali. Inginnya. Kenyataannya tak demikian.

Memilukan? Mungkin begitu. Menyakitkan? Bisa jadi seperti itu. Tapi hidup untuk disyukuri bukan?

Terkadang aku masih mengenangmu. Apa itu salah menurut kacamatamu?

i found here
Bagi sebagian orang sepertinya tidak. Mengenang bukan berarti menginginkan untuk kembali. Bukan pula masih berdiri di tempat menunggu dia kembali. Ingin berbalik arah lalu menjadi bahumu lagi. Bukan. Sama sekali bukan itu. Tak ada yang melarang bukan jika kita mengingat seseorang yang pernah menjadi yang terbaik?


I wish you were here.
i found here
Terkadang pula pernyataan itu terlintas. Tapi aku kembali sadar. Tak perlu lagi menginginkan yang demikian. Tuhan telah menunjukkan kuasa-Nya. Biarlah kita mengikuti jalan yang telah Dia tunjukkan. Demikian bukan? Ah, aku tak bermaksud menjadi manusia yang sok tahu tentang takdir Tuhan. Tapi manusia bisa apalagi selain bersyukur dan menikmati semua skenario Tuhan yang telah dibuat dan menunggu eksekusi selanjutnya?

Kamu yang dulu sempat mendiami hati, masih ada namamu pada sujudku.
i found here
Walau tak sesering dulu, tapi aku masih menyebut namamu dalam do’a. Berdo’a untuk kebahagianmu. Berdo’a untuk perjalananmu mendapatkan toga beberapa bulan lagi. Ah, tanpa diminta ternyata waktu berjalan begitu cepat. Sampai hari ini aku serasa dipermainkan oleh waktu. Baru beberapa waktu yang lalu aku mengenalmu. Perpisahan yang bersanding dengan perkenalan akan menyambangiku beberapa waktu lagi.

Waktu adalah penyembuh luka nomor satu.
i found here
Waktu suka mempermainkan seseorang. Sangat suka. Banyak orang yang tak berdaya karenanya. Tapi ternyata waktu juga bisa berbuat baik. Dia bisa menjadi penyembuh luka saat satupun obat tak ada yang mampu melakukannya.

Dan nanti, waktu pun akan menunjukkan kebaikannya lagi selain sebagai penyembuh luka hati. Pada masanya, waktu akan mempertemukan kita dengan yang terkasih. Yang pernah menjadi yang terbaik akan tergantikan tapi tetap terkenang karena pernah menjadi bagian dalam cerita. Suatu saat nanti. Karena apa yang sudah Tuhan tetapkan menjadi milikmu, tak akan pernah menjadi milik orang lain. Tak akan tertukar. Mari percaya dengan takdir Tuhan. Dengan jalan cerita terbaik tanpa seorang pun bisa menuliskan.



Kepada kamu yang sempat menjadi yang terbaik,
semoga dimudahkan perjalanan hidupmu yang sangat memukau ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak sesuai cerita diatas. Semoga bermanfaat.

And thanks for your visiting! :)