Senin, 11 November 2013

Ada Tanpa Diminta

Kadang kala saat bumi panas dibutuhkan hujan untuk mendinginkan, untuk menyegarkan, dan mengharumkan tanah.

Seperti ombak yang selalu menemani laut dimana pun laut berada. Ombak selalu ada untuk laut. Bagai langit, selalu ada yang setia terhadapnya. Kala pagi, siang, sore, bahkan malam. Langit selalu ada yang menemani dan tak pernah merasa sepi. Pagi, siang, dan sore selalu ada matahari yang mendampinginya. Kala malam langit pun juga tak sendiri. Ada bulan dan bintang yang tak mau beranjak dari sampingnya. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Satu pun dari mereka tak ada yang mampu untuk meninggalkan yang lain. Karena apa? Karena mereka sama-sama membutuhkan sekalipun tanpa diminta.

Seperti sekelompok orang yang rela menanjaki pegunungan hanya untuk mendapatkan satu keindahan saja. Ya, satu saja. Mereka rela menjajaki batu-batu besar, rela lelah, rela membuang keringat hanya untuk melihat matahari terbit. Penuh pengorbanan hanya untuk mendapatkan satu keindahan.


Seperti kamu, penikmat senja di tepian pantai. Tiap kali jarum menunjukkan pukul 4 sore, kamu buru-buru mengayuh sepeda tanpa henti. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah dan lekukan bibirmu. Sesampai di pantai, kamu tak bermain pasir, air laut, ataupun bermain sepak bola di tepi pantai. Tapi kamu hanya duduk. Diam memandang ke arah barat. Apa yang kamu lihat? Senja. Kamu rela menunggunya walau kamu hanya bisa menikmatinya sepersekian detik. Menunggu akan hal sederhana.