Rabu, 24 Desember 2014

Perihal Rindu

Hai.
Selamat malam, Tuan.

Bagaimana harimu pagi hingga malam ini? Menyenangkan bukan? Ah, ataukah kamu lelah (lagi) dengan semua kepenatan kegiatan-kegiatanmu? Santai saja, Tuan. Ketika kamu lelah, aku siap menimangmu hingga kamu terlelap dalam kepulasan. Membuatmu bermimpi indah untuk esok yang lebih bahagia.

Tuan, temu yang kita nanti sepanjang malam akhirnya berdamai dipersatukan oleh rindu. Sebagai pengobat dalam jiwa untuk masing-masing diantara kita berdua. Barangkali hari bisa kuhabiskan bersamamu selalu, aku hanya ingin membuatmu bahagia tanpa henti. Dan herannya, mengapa rinduku tak pernah habis untukmu. Mengapa demikian, ya, Tuan? Apakah kamu sudah menjadi candu yang tak mau kumusnahkan?

Hm, Tuan. Bagiku sebuah temu sebenarnya tak cukup. Tak cukup sekali atau bahkan dua kali. Rindu ini tak akan pernah ku selesaikan. Bahkan aku tak mau menyelesaikannya. Sebab denganmu adalah indah. Bersamamu adalah suka. Kedatanganmu adalah penantianku.


Maaf, Tuan.
Aku tak bisa menahan diri untuk tak merindukanmu.
Semua ini terjadi begitu saja tanpa mau ku berhentikan.

Senin, 22 Desember 2014

Perihal Luka

Selamat malam, Tuan.

Ya, kamu, Tuan. Tuan penyembuh luka. Tuan pembawa suka.

Ah, Tuan. Tahukah kamu apa yang sebenarnya terjadi? Benar, ternyata kamu mampu menyembuhkan lukaku. Luka lama yang tak mau kering bahkan hingga bernanah ternyata mampu kamu sembuhkan, Tuan.

Ah, ya, Tuan. Aku sedikit ingin bercerita. Tentangmu dan tentang kita. Kini kamu menjadi candu. Aku menunggu sapamu. Berharap di koridor kampus aku mampu menemukanmu. Sepersekian detik tak masalah untukku. Candu akan dirimu tak ingin ku sembuhkan. Sebab aku menikmati ini. Selain itu aku juga menanti. Menanti minggu pagi yang sering kita habiskan bersama. Pun aku juga menikmati ketika kita bertengkar. Bagiku, itu adalah kemesraan yang berbeda. Selain pertengkaran kecil yang sering kita ciptakan, pun aku juga suka dengan kesabaran dan dewasamu. Tapi, aku ingin mengenalmu lebih dari ini, Tuan. Aku ingin mengenalmu seperti kamu mengenal kamu, seperti aku yang mengenal aku.

Malam ini, tidurlah dengan lelap, Tuuan. Jangan buat lelah mengganggu tidur manismu. Esok, aku akan menunggumu. Menunggu waktu untuk dihabiskan, hanya berdua. Aku dan kamu. Cukup itu.



Untuk kamu,
lelaki yang ku sematkan namanya dalam setiap sujud

Minggu, 21 Desember 2014

Surat Untuk Ibu

Hujan masih menggelayut manja pada langit. Dia tak ingin bergerak turun padahal para penanti sudah menunggunya. Entah apa yang membuatnya enggan menyapa mereka. Aku masih sepertinya; hujan. Aku masih ingin menggelayut manja kepadanya. Pada wanita cantik yang melahirkanku puluhan tahun yang lalu. Dari daun yang menunggu sapa embun hingga matahari yang bersembunyi di balik punggung belahan langit bagian lain. Aku ingin bermanja padamu sepanjang hari, sepanjang usiaku, tanpa henti. Seperti kasihmu, kasih sepanjang masamu, Ibu. Semandiri-mandirinya anakmu, kami tetap membutuhkanmu. Seperti yang kamu tahu, Ibu.

"Kak, ibu besok berangkat jam 6 pagi. Anterin ya."

"Iya."

***

"Kak, besok anterin ibu lagi, ya?"

"Hm."

"Mau apa enggak, kak? Kalau gak mau bilang aja. Ibu berangkat sendiri aja."

"Iya, iya, Bu. Aku anterin!"

***

SAHABAT (Satu Hati Bersama Telkom)

Venue di lapangan basket
SAHABAT. Satu Hati Bersama Telkom, salah satu KPP (Kegiatan Pasca Pelatihan) TELKOM 2014. Acara ini adalah implementasi dari Parabola (bagian dari lambang Telkom), yaitu untuk menampung aspirasi warga Telkom. Acaranya ngapain aja?

Acara pagi ini (21/12) diadain di lapangan basket PENS, dimulai dengan jalan sehat. Rutenya mulai dari Asrama PENS - PPNS - Teknik Kelautan ITS - Biologi ITS - Bundaran ITS - PENS. Selain bikin sehat badan, jalan sehat juga asik buat kenal satu sama lain, misalnya antar angkatan. Kami berbagi canda tawa di sini. Mulai dari 2014, 2013, 2012, 2011, LJ bahkan alumni.