Selamat
tengah malam, kepada kamu yang baru saja saya ketahui. Kepada kamu yang baru
saja saya kenal. Kepada kamu yang baru saja saya temui secara tak sengaja. Kepada
kamu yang baru saja membuat saya terpikat pada temu yang pertama.
Opini
pertama pada temu pagi kala itu, kamu begitu menghangatkan. Kamu begitu sopan. Kamu
begitu bersahaja. Dan tentunya kamu begitu sabar. Subhanallah, dengan baik hati
Tuhan menyematkan namamu dalam rentetan cerita perjalanan hidup saya. Kali ini Tuhan
berbaik hati (lagi). Dia menyematkan (sedikit) cerita bersamamu dalam
keseharian saya. Sederhana namun membahagiakan.
Lambat
laun, diam-diam saya mengamati kamu. Mencari tahu pada ketidaktahuan saya. Mencari
tahu pada keterbatasan saya. Pada ketakberdayaan saya. Mencari dan terus
mencari. Apa saja, mengenai kamu.
Esoknya,
tanpa diduga yang kata kamu libur, ternyata saya melihatmu. Bukan ilusi. Degup kencang,
bahagia, dan malu-malu bercampur menjadi satu. Benarkah itu kamu?
Ah,
Tuan, begitu lembutnya kamu sehingga membuat saya terpikat. Membuat letupan-letupan
kecil yang telah lama hilang muncul kembali. Tuan, sebenarnya sejak senja
gerimis di tepian kota itu kamu sudah merenggut sebagian dari sesuatu yang
telah lama ingin saya bagikan. Disela-sela kesibukanmu yang maha dahsyat, disela-sela
pekerjaan yang tak tahu diri padahal Tuannya ingin istirahat, kamu tak ingin
menduakan-Nya. Kamu tetap ingin melantukan asma-Nya di manapun kamu berada.
Sungguh, Tuan, hal seperti itu membuat saya benar-benar terpikat. Letupan-letupan
itu semakin membakar apapun yang ada di sekitarnya. Subhanallah.