Laman

Sabtu, 25 Oktober 2014

Selarik Kisah untuk Kamu, Masa Remajaku

Dokumentasi Pribadi
Suatu ketika aku dan kamu pernah membuat sebuah janji. Perjanjian yang tak disampaikan secara langsung maupun tertulis. Tapi karena janji itu, aku dan kamu sempat memaknai waktu bersama, berdua. Kebahagiaan yang sangat sederhana untuk dua orang yang sangat berharga.

Nyanyian bersama ingin menciptakan cerita hidup yang tidak biasa bagi sebagian orang. Menginginkan untuk menciptakan kehidupan berdua yang begitu menyenangkan. Kelak, beberapa tahun kemudian. Inginnya seperti demikian.

Kamu ke kanan, aku mengikutimu.

Kamu ke kiri, aku pun mengikutimu.

Kemanapun arahmu beranjak, pasti aku di belakangmu.

Apa aku kecewa dengan hal-hal yang pernah aku perjuangkan untukmu? Sedikit. Ah, sebentar. Akan aku jelaskan.

Ini bukan perihal ikhlas atau tak ikhlas. Bukan pula perihal cinta atau tak cinta. Bukan juga perihal aku memilihmu dan kamu memilihku. Wajar bukan jika seseorang mengalami kekecewaan terhadap apa atau siapa yang memang mengecewakannya? Tak seperti ekspektasi yang diinginkan. Atau mungkin tidak sebanding dengan apa atau siapa yang sudah diperjuangkan.

Kamu memanglah tetap kamu yang tak akan pernah berubah karena adanya aku. Tak perlulah aku bermimpi yang indah, jika kamu masih bersama dalam kehidupanku setiap harinya. Masih ada senyum itu yang melekat pada bibir merahmu. Masih ada gelak tawa yang mampu menyebarkan tawa.



Masa itu, ketika aku dan kamu masih bersama.

Masih ingat bagaimana caramu menikmati setiap sepersekian detik untuk seseorang yang sempat kamu perjuangkan? Rasanya begitu tak biasa. Kesenangan yang sepertinya patut disyukuri walau semua telah berlalu.

Sakit atau tidaknya luka, pasti akan dapat pembelajaran dari sana. Kamu ataupun aku adalah proses untuk masing-masing diantara kita agar menjadi lebih dewasa, untuk memaknai sebuah kehidupan; perjuangan, bersyukur, ataupun kesakitan. Kamu ataupun aku adalah sebuah jalan untuk mendekati kesempurnaan. Kamu ataupun aku adalah jalan yang ditunjukkan Tuhan untuk kehidupan kita, nantinya.

Tuan, ingatkan aku untuk tidak menunggumu lagi. Di depan pintu maupun di belakang pintu. Ingatkan lagi, tak ada lagi tutur manis seperti yang pernah kita utarakan beberapa waktu yang lalu. Biarlah semua berjalan kembali seperti awal mulanya, ketika aku atau kamu tak saling bergantungan.

Tuan, kehidupan telah menanti kita di depan. Kamu dengan masa depanmu. Juga aku dengan masa depanku.

Tuan di masa remajaku, terima kasih sempat menyediakan ruang di bagian hati terkecilmu. Terima kasih untuk setiap kesempatan dan waktu yang sempat aku dan kamu berikan dan luangkan untuk kita. Terima kasih pula karena aku ataupun kamu dapat berjuang dan berusaha sesuai takaran masing-masing untuk kita.

Kenyataannya memang cinta tak harus memiliki sampai waktu yang kita inginkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak sesuai cerita diatas. Semoga bermanfaat.

And thanks for your visiting! :)