Hai.
Ah, begitu sulitnya menyapamu
dengan kalimat yang panjang. Lagi-lagi sekadar “hai”. Mungkin ada kesalahan
pada mulut, lidah, tenggorokan atau apalah itu. Rasanya mereka tak mau berdamai
untuk membahagiakan pemiliknya. Sepertinya mereka sedang beradu satu sama lain dan
ketiganya tak mau mengalah. Lupakanlah itu. Aku hanya ingin bercerita kepada
kamu, Tuan penyuka warna hitam.
Tuan yang suka bermain futsal,
ternyata begitu lama aku tak menulis tentangmu. 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan. Mmm,
sepertinya lebih dari itu. Jika kuhitung-hitung lagi ternyata sekitar 7 bulan. Begitu
lama, Tuan. Entah apa saja yang membuatku lupa dan berjalan sedemikian rupa.
Tuan yang sedang suka naik
gunung, lihatlah. Tak ada lagi hujan
yang turun di pagi, siang, bahkan malam hari. Tak ada lagi geledek yang membuat
telinga serasa hancur ditengah panasnya hawa Surabaya. Semua itu tak ada lagi,
Tuan.
Sebagaimana berjalan mencapai
tujuan, aku mampu melakukannya dengan baik. Walau terkadang harus ada sesuatu
yang membantuku berjalan. Walau terkadang aku harus jatuh lalu kemudian bangkit
lagi. Jatuh, bangkit, jatuh, dan bangkit lagi. Terus seperti itu hingga aku
mampu berjalan agak lama dari sebelumnya. Aku melakukan itu, Tuan penggila
Juventus. Melakukan hal yang seharusnya kulakukan denganmu. Tapi aku tahu, tak ada
lagi kamu yang membantuku berjalan di bawah siraman hangat matahari pagi maupun
senja yang terkadang mengiris hati.

