Laman

Senin, 16 Desember 2013

Daun Tanpa Embun


Apa kamu tahu angin di pagi hari? Disana kamu bisa merasakan kesejukan tiada henti. Merambah ke wajah, tangan, dan kaki sampai ke pori-pori. Dingin. Namun begitu memikat untuk dirasakan kembali. Dia begitu menenangkan jiwa. Membuat kamu ingin menutup mata dan merasakan kesejukannya lebih dari yang kamu inginkan.

Ah. Aku merindukan kamu yang tak pernah ku ketahui lebih detail. Aku mengenalmu hanya dengan sebatas melihat. Memperhatikan kamu dari jauh. Mengetahui tawa renyahmu dari jarak sekian meter. Aku tak menegenalmu seperti daun dengan embun. Mereka begitu dekat. Setiap pagi selalu ada embun pada daun. Mereka tak pernah menjauh kala pagi datang. Daun dan embun saling mengenal. Saat pagi, tanpa embun sepertinya daun akan merasa sepi. Begitu juga dengan aku. Tanpa tawamu dan tanpa melihatmu semua terasa begitu memilukan. Kamu seperti senja yang selalu datang saat matahari menutup mata. Hanya sepersekian detik tapi begitu berarti untuk diamati dan dirasakan.

Senin, 11 November 2013

Ada Tanpa Diminta

Kadang kala saat bumi panas dibutuhkan hujan untuk mendinginkan, untuk menyegarkan, dan mengharumkan tanah.

Seperti ombak yang selalu menemani laut dimana pun laut berada. Ombak selalu ada untuk laut. Bagai langit, selalu ada yang setia terhadapnya. Kala pagi, siang, sore, bahkan malam. Langit selalu ada yang menemani dan tak pernah merasa sepi. Pagi, siang, dan sore selalu ada matahari yang mendampinginya. Kala malam langit pun juga tak sendiri. Ada bulan dan bintang yang tak mau beranjak dari sampingnya. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Satu pun dari mereka tak ada yang mampu untuk meninggalkan yang lain. Karena apa? Karena mereka sama-sama membutuhkan sekalipun tanpa diminta.

Seperti sekelompok orang yang rela menanjaki pegunungan hanya untuk mendapatkan satu keindahan saja. Ya, satu saja. Mereka rela menjajaki batu-batu besar, rela lelah, rela membuang keringat hanya untuk melihat matahari terbit. Penuh pengorbanan hanya untuk mendapatkan satu keindahan.


Seperti kamu, penikmat senja di tepian pantai. Tiap kali jarum menunjukkan pukul 4 sore, kamu buru-buru mengayuh sepeda tanpa henti. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah dan lekukan bibirmu. Sesampai di pantai, kamu tak bermain pasir, air laut, ataupun bermain sepak bola di tepi pantai. Tapi kamu hanya duduk. Diam memandang ke arah barat. Apa yang kamu lihat? Senja. Kamu rela menunggunya walau kamu hanya bisa menikmatinya sepersekian detik. Menunggu akan hal sederhana.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Merangkulmu Semampuku

“Gischa begitu baik. Dia manis. Sederhana tapi daya tariknya tak dapat tertutupi begitu saja,” paparnya penuh dengan kebahagiaan yang terpancar dari matanya.

Ada kesakitan saat perlahan kamu membeberkan semua hal tentangnya. Ada kesakitan saat kamu memujanya, terlebih saat kamu menyebut namanya. Bukan aku tapi Gischa . Mengertikah kamu dengan rasaku? Mungkin sebaiknya aku memprioritaskan kamu dibanding aku. Sebaiknya aku mendengarkan segala celotehmu walau bukan tentang aku. Dengan begitu setidaknya bisa disebut aku selalu ada untuk kamu, walau mungkin belum bisa disebut kamu ada untuk aku.

Sebisa mungkin aku membiarkan kesakitan menggerogoti jiwaku, bukan kamu. Biarlah luka tertanam bahkan tumbuh dengan jelas pada rasa yang sudah lama tumbuh terhadap kamu. Biarlah kamu bercerita tentangnya, setidaknya dengan itu aku bisa melihat kamu tersenyum, tertawa, terharu, bahkan memuja perempuan itu. Ya, perempuan yang ada disana. Bukan disebelahmu. Bukan aku.


Minggu, 13 Oktober 2013

Aku Menyebutnya Romi

Diam-diam. Mencoba berusaha sedikit demi sedikit tanpa tahu rasa malu. Tak memperhatikan bisikan negatif dari orang-orang sekitar yang mulai membekukan telinga. Perlahan, perlahan, dan perlahan. Berjalan pelan namun penuh kepastian. Berusaha terlebih dulu tanpa tahu bagaimana nantinya hasil yang akan didapat.

Aku memang bukan yang terbaik. Tapi aku selalu berusaha berposisi menjadi orang yang terbaik, untukmu. Aku memang tak sempurna, tapi dengan ketidaksempurnaan itu, aku menginginkan kamu dapat menjadi pelengkap dan membuat individu ini bisa dikatakan sebagai seseorang yang sempurna.

Berkali-kali putus asa, tapi masih mencoba untuk bangkit. Karena siapa? Karena kamu.

Tubuhku sering terpaku saat melihatmu. Tak mampu bergerak. Aku hanya mampu menunduk, kemudian menangis. Kapan aku dan kamu bisa menjadi kita?

Sebenarnya kamu begitu dekat. Tapi mengapa sangat sulit untuk digapai? Menyentuhmu saja aku tak kuasa. Apalagi jika harus memelukmu. Melihat. Dari jauh, bukan dari dekat. Seperti itulah yang bisa kulakukan.

“Kenapa menangis? Tahukah kamu bahwa sebenarnya aku seperti kamu? Aku juga sering memperhatikanmu, dari jauh. Dan sekarang aku baru berani untuk mendekat.”


Aku menghambur kearahnya. Memeluknya tanpa berani untuk melepaskan. Tak mau kehilangan dia, Romi.

Jumat, 11 Oktober 2013

Titipan Cerita Untuk TELKOM 2012

Kali ini saya hanya ingin sedikit berbagi cerita. Tak jauh-jauh dari kegiatan sehari-hari, teman, dan pastinya kuliah.

2012 kemarin saya menjadi mahasiswa Telekomunikasi di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Nama kampus saya terlalu panjang? Oke, sebut saja PENS atau EEPIS. Tapi walaupun namanya panjang, tak sebanding dengan panjang atau luas kampusnya. Oke, abaikan.

Setelah masuk di TELKOM, saya harus beradaptasi dengan baik disini. Untungnya saya adalah tipikal orang yang mudah bergaul. Jadi tidak begitu sulit untuk menyesuaikan dengan keadaan ataupun lingkungan yang ada. Lanjut lagi, selain kuliah saya disibukkan dengan hal lain, yaitu pengkaderan jurusan. Atau biasa disebut OPP atau OPJ. Awalnya mengikuti kegiatan seperti ini terasa berat. Tapi lambat laun saya mencoba untuk tidak mengeluh dan mencoba melihat dari sisi positif yang ada.

Lama-lama saya merasa nyaman dengan kondisi yang ada. Sudah terbiasa dengan segala kesibukkan yang setiap hari datang. Berbagai kegiatan saya ikuti bersama teman-teman yang lain. Salah satu manfaat kegiatan tersebut adalah agar kami mengenal satu sama lain dalam lingkup angkatan 2012, tetapi tak menutup kemungkinan agar kami bisa lebih dekat dengan kakak kelas.