Laman

Sabtu, 08 Juni 2013

Untitled

Lelaki itu masih miliknya.

Wanita yang saat ini berada di hadapaku selalu membagikan keluh kisahnya saat kami bertemu. Berbagai cerita mengalir begitu saja tanpa diminta. Cerita mengagumkan, indah, tapi juga menyakitkan. Tapi yang perlu digaris bawahi sepertinya ceritanya begitu menyakitkan. Begitu membuatku trenyuh dan merasa bangga memiliki sahabat sepertinya.

Maretha. Wanita luar biasa yang memiliki kesabaran tanpa batas. Dia mampu tersenyum dalam tangis. Mampu berdiri saat dia benar-benar terperosok ke dalam kesedihan. Mampu meyakinkan orang lain bahwa sebenarnya dia masih kuat. Keteguhan hatinya untuk memperjuangkan dan merawat cinta yang telah dia dapat benar-benar mengagumkan.

“Kenapa kamu masih mampu dan masih mau mempertahankan dia?”

“Selagi masih ada kesempatan untuk mempertahankan kenapa tidak?”

Kesempatan. Dia benar-benar menggunakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuknya. Selagi ada waktu. Selagi masih ada kesempatan. Dan selagi bisa.

Tak jarang dia berkeluh kesah di hadapanku. Bercerita panjang lebar mengenai lelaki yang telah memiliki hatinya. Bercerita bagaimana lelaki itu lebih sering terlihat cuek dibanding perhatian. Tapi perlu kita ketahui, cuek yang dimiliki seorang lelaki bukan berarti bahwa dia tidak memperhatikan kita. (mungkin) dengan cueknya, dia memperhatikan wanita lebih dari yang kita ketahui.


Selasa, 04 Juni 2013

Menepi Untuk Berjalan Kembali

Memilih satu dari sekian banyak pilihan bukanlah perkara mudah. Berbagai pertimbangan harus dipikirkan dengan baik jika tak ingin terjadi suatu keburukan yang tak diinginkan.

Tak terkecuali menjatuhkan pilihanku ke kamu. Aku harus berpikir matang terlebih dahulu sebelum akhirnya mulai membangun perasaan yang begitu besar terhadapmu. Aku harus menempuh proses yang sangat panjang. Menjadikan semua proses itu bagian dari semua perjalananku.

Dalam suatu proses tak selalu ada hal yang menyenangkan, tetapi ada juga berbagai hal yang sangat tak kita inginkan muncul begitu saja tanpa mau permisi terlebih dahulu. Sampai saat ini, aku masih menempuh berbagai proses itu. Aku masih merasakan bagian dari proses yang sangat tak ingin aku temui. Kendala. Kesakitan. Sebuah pengharapan yang sampai saat ini (mungkin) masih belum diketahui olehnya.

Kamu tahu? Atau malah kamu tidak tahu? Ah! Mungkin benar kamu memang tak akan tahu. Jadi tolong sebentar saja kamu coba lihat kesini. Ya! Kesini. Kearahku. Hanya sebentar. Jika memang iya, ku harap kamu akan berbalik. Berbalik dan berlari ke arahku untuk menggapaiku, untuk meraihku. Menggapaiku yang seakan-akan telah luruh bersamaan dengan semua proses tersebut.


Jumat, 17 Mei 2013

Kemarilah! Aku Disini


Kamu mungkin tak akan pernah tahu bahwa aku disini. Menunggumu di seberang jalan tanpa mau melangkap kembali, untuk mencapaimu. Aku hanya mampu menikmati semilir angin, menikmati rakitan takdirNya, tanpa pernah tahu kapan aku harus benar-benar bangkit, berlari dan menjangkaumu.

Apakah kamu batu? Apa kamu hanya berpura-pura menjadi batu? Tanpa pernah tahu aku adalah air yang ingin melembutkanmu. Menjadikanmu lebih peka dengan sekitarmu.

Apa kamu buta? Atau sengaja membutakan mata dan batinmu? Kemarilah. Aku akan menunjukkanmu beberapa jalan yang mungkin akan membuat keadaan lebih baik. Membuat perasaanmu dan perasaanku menjadi satu. Lihatlah kemari! Ada aku yang selalu memperhatikanmu. Secara langsung maupun tak langsung. Selalu mengharapkanmu tanpa pernah tahu apakah kamu juga akan mengharapkanku.

Entahlah! Bagaimana seharusnya aku menyampaikan pesan ini? Cobalah kemari! Mataku mampu menyampaikan semua pesan yang tak bisa ku tuliskan, apalagi ku ungkapkan. Mataku akan berbicara, dari hati.


Minggu, 14 April 2013

Pergilah Kegamangan



Aku menginginkan perasaan yang dulu terulang kembali. Merasakan bagaimana bahagianya saat melihat “seseorang”, merasakan bahagia saat berada di dekatnya, saat bertegur sapa, dan hal-hal aneh namun indah itu.
Memulai sesuatu hal memang sangat sulit dibandingkan mengakhiri suatu hal, termasuk memulai sebuah rasa. Terlebih lagi ada suatu “ketakutan” yang entah bisa hilang atau tidak.

Ingin sekali seperti dahulu, tak ada ketakutan yang menghampiri. Semuanya berjalan begitu nyata saat ada perasaan terhadapnya. Namun, berbeda dengan sekarang. Keadaan dahulu membuat efek yang tidak baik di masa sekarang. Ada suatu kegamangan, ketidakpastian, bahkan keraguan.

Sampai kapan harus seperti ini? Sepertinya aku tak tahu jawabnya. Tapi jika tak segera menemukan jawaban, mungkin selamanya aku akan terhenti disini. Tak dapat berdiri apalagi berlari.

Kamis, 11 April 2013

Masih (Ibu)


Hai bidadari cantik. Bagaimana keadaan disana? Masih ada kesempatan melihat senyum kami kah? Jika memang iya, saya harap keadaan disana akan lebih membuatmu bahagia.

Bidadari, tahukah kau saat saya merindukanmu, saya selalu pergi ke tempat itu. Saya hanya melewati bangunan besar dan tua itu. Kegiatan tak rutin yang selalu saya lakukan saat malam hari, sebab saya sangat suka dengan suasana malam hari di tempat kenangan terakhir kita. Saya selalu teringat saat pagi hari datang untuk menjagamu dan malamnya saya akan pamit pulang atau bahkan saya tak pulang demi menjaga dan merawatmu. Melihat senyum ketabahan yang selalu kau tularkan untuk saya, keluarga, dokter, dan perawat yang ada disana.

Satu hari setelah pindah rawat inap di Rumah Sakit Darmo, Profesor menginginkannya agar dikemoterapi. Keputusan besar melibatkana keluarga kami.