Laman

Senin, 28 Januari 2013

Merah Hijau

imgfave.com

“Hai.” Sapa lelaki disamping Rinda.

Rinda hanya memberikan seulas senyuman. Tak ingin memberikan keributan kecil di perpustakaan D4.

“Mahasiswa baru?”

Rinda mengangguk. Tetap dengan senyuman.

“Jurusan apa?”

“Telekomunikasi. Kakak?”

“Elektro Industri.”

“Oh. Iya.”

Rinda melanjutkan membaca novel yang dia bawa kemanapun, termasuk ke kampus. Saat tak ada mata kuliah seperti ini, Rinda lebih memilih berdiam diri di perpustakaan D4 yang lebih nyaman dibandingkan dengan perpustakaan D3. Membaca novel dapat menyegarkan otaknya setelah memakan berbagai rumus-rumus Elektromagnetik, berbagai rangkaian listrik, Dasar Pemrograman, dan sebagainya.

Sabtu, 26 Januari 2013

Rinduku Memanggilmu

Hai bidadari yang diciptakan Allah untuk saya, malaikat pembawa kebahagiaan yang dititipkan Allah untuk dunia, IBU.

Bagaimana kabar ibu disana? Semoga ibu bahagia sebab kami disini masih dan akan tetap mengirimkan do’a-do’a terbaik untuk ibu.

Beberapa hari ini saya memimpikan ibu. Seakan-akan ibu masih ada di samping kami, menjadi wanita tercantik yang pernah saya temui, sampai kapanpun. Mempersembahkan kebahagiaan yang tak bisa didapat dari siapapun, yang tak dapat dicari kemanapun. Hanya satu, dari ibu.

Kemarin, saya menemukan secarik kertas. Berisikan keinginan saya, mimpi-mimpi saya. Saya masih ingat, kertas itu adalah sebuah surat yang saya khususkan untuk ibu. Surat pertama dan terakhir untuk beliau. Saya tak berani untuk menyampaikan secara langsung perihal apa saja yang saya inginkan, sehingga saya harus menulisnya agar pesan itu benar-benar tersampaikan, tanpa ditutup-tutupi. Setelah surat itu beliau baca, beliau mengungkapkan “Ibu juga ingin seperti ibu-ibu yang lain, yang bisa dekat dengan anaknya.” Saat itu juga, saya ingin menangis. Sungguh tak ada keberanian untuk menatap beliau, apalagi memeluknya. Saya hanya diam, mengangguk, dan pergi untuk menangis. Betapa bodohnya saya tidak bisa menggunakan kesempatan itu dengan baik.

Minggu, 20 Januari 2013

Menunggu Dengan Mengenangmu



Hujan menghunus bumi. Bertabrakan dengan atap-atap gedung pencakar langit dan rumah-rumah. Menghasilkan bunyi yang dapat menggoda emosi. Membuat lantunan lagu tak dapat tersampaikan dengan baik ke gendang telinga penikmatnya seperti kerinduan saya pada lelaki itu. (Mungkin) sampai kapanpun dia tak akan tahu kerinduan yang amat mencekam dan membunuh ini. Hujan. Kerinduan. Mereka tak akan pernah bersatu dan tak akan mau bersatu.

Saya kehilangan cara, kehilangan arah untuk menemukan kamu yang kemarin, yang selalu mengingatkan saya akan hal-hal sederhana. Dimana kamu sekarang? Akankah kamu nantinya kembali untuk sekedar menyapa saya dan mengucapkan selamat malam sebelum saya tertidur?

Harapan tinggallah harapan. Saya tak memungkiri agar kamu kembali lagi kesini. Kamu terlalu menarik perhatian saya.

Kamis, 17 Januari 2013

Tanpa Kepastian




Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu. Saya terlalu khawatir dengan keadaanmu saat ini. Saya juga tak berani untuk menyampaikan secara langsung, secara gamblang. Komunikasi itu hilang begitu saja tanpa alasan. Saya membutuhkan alasan.

Kali ini, biarkan saya mengalah. Biarkan saya diam dan menunggu jawaban yang tak pasti. Secepat mungkin saya benar-benar membutuhkan alasan kenapa kamu seperti ini.

Semalam, ada sesuatu yang tercipta. Kamu di mimpiku. Mimpiku, kamu menjadi sosok yang kemarin, bukan sosok hari ini. Kamu masih seperti dulu yang bisa membuat saya menjadi tenang tanpa alasan.

ketulusanku untuk menanti




Sungguh aku tak mengerti dengan pola pikirmu. Aku memang tak mau berbesar hati dan berbangga diri terlebih dulu, namun inilah yang terjadi pada cerita kehidupanku.

Kamu datang. Sepotong pesan singkat kala sore itu. Esoknya di jam yang hampir sama, kamu menghubungiku. Namun saat itu aku tak tahu sebenarnya siapa kamu. Dari sana kita berkenalan. 

Entah dengan cara apa, dalam waktu singkat kamu dapat mengalihkan duniaku, kamu dapat mengalihkan waktuku hanya untuk sekedar mengirimkan dan menerima pesan singkat. Sesederhanakah itu hal yang bernama cinta?

Aku tak ingin gagal lagi. Maaf, sepertinya bukan gagal, melainkan berhenti dalam berproses. Aku berusaha mengejar suatu ketidakpastian, sebab yang pasti hanya satu, kematian. Aku berusaha mengejar dan terus mengejar namun tetap dengan batas kewajaran.

Kamu, sederhana dengan berbagai perhatian yang kamu berikan. Wanita manapun pasti akan merasa dihargai saat ada seseorang yang memberikan perhatian sekecil apapun secara tulus. Termasuk berbagai hal kecil yang kamu berikan untukku. Benar-benar aku hargai, benar-benar ku berikan apresiasi, untukmu.