Cklek.
Mataku langsung terbuka. Aku tahu
siapa yang baru saja membuka pintu kamarku, walaupun mataku masih
terpejam. Hanya beliaulah yang dapat
membangunkanku dengan hal ini.
“Mbak, cepet bangun. Udah waktunya
sholat shubuh. Udah gede kok bangun sendiri aja gak bisa.”
“Iya buk.” Jawabku pendek. Aku
bergegas bebersih diri dan mengambil air wudhu. Kalau tak begitu bukan hanya
waktu yang meninggalkanku tapi juga aku akan dapat hadiah dari ibu. Hadiah yang
sangat tak menarik tentunya.
“Mbak, nanti habis nganter ibu kamu
masak kepiting ya buat adek. Ibu tadi kesiangan jadi gak sempat masak.” Begitu
kata ibu setelah aku selesai memberi sapaan pagi untuk Tuhan.
“Aduh, ibu ini. Bikin males aja.
Capek tahu habis nganter ibu ke Bungurasih terus masak. Iya kalo terminalnya
deket. Ini jauh men. Hhhh.” Batinku
setelah mendapat perintah darinya.
****
Sesungguhnya setiap anak pasti
menyayangi orang tuanya. Sangat menyayangi mereka terutama ibu dari
masing-masing melebihi apapun yang ada di dunia ini. Tapi sering kali hati dan
keinginan tak pernah jalan beriringan. Sering kali mereka berjalan berlawanan.
Pun denganku. Seorang anak yang sampai saat ini hanya bisa merepotkan orang
tua, mau dimengerti oleh mereka namun tak mau mengerti mereka.



.jpg)