Laman

Minggu, 10 Maret 2013

Mencintai Tak Selamanya Tuk Disakiti

Perasaan ini terlalu rumit untuk dijelaskan. Terlalu sulit untuk digambarkan dengan rentetan kata-kata yang penuh makna. Aku tak tahu sebenarnya perasaan apakah yang selalu mengganggu hati dan pikiranku ini. Semuanya terjadi begitu saja. Entah sejak kapan dan entah dimulai darimana. Cinta memang selalu membuahkan sebuah kejutan. Tapi apakah ini cinta?

“Bagaimana perasaanmu dengannya?”

“Aku tak tahu. Semuanya terlalu abstrak. Tidak mudah untuk dijelaskan.”

“Tak ada yang rumit jika kamu mau memulai. Coba ceritakan.”

“Apa yang harus diceritakan? Aku sendiri tidak tahu harus memulai darimana. Dan akan berakhir bagaimana.”

Senin, 25 Februari 2013

Masih Untuknya, Malaikat Berjilbab


Seperti malam-malam sebelumnya, saya ingin menyapa malaikat tak bersayap, malaikat yang sempat bernyawa, malaikat berjilbab, yang sudah berpisah dari saya tapi saya masih berharap dipertemukan lagi; nanti di surga, Ibu.

Satu pesan yang ingin saya sampaikan. Dan beberapa cerita yang ingin saya ungkapkan untuk ibu.

Pesan untuk Ibu, saya sudah menyelesaikan satu semester di Teknik Telekomunikasi - Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Transkrip nilai sudah ada di tangan saya, Bu. Kemarin Sabtu (22/2) bapak mengambilkan hasil belajar yang sudah saya perjuangkan. Biasanya kalau ada rapat orang tua dan mengambil raport,  Ibu lah yang selalu melakukannya, untuk saya. Seperti saat sebelumnya; saat Leukimia itu sudah mendekati Ibu, menjadi sahabat Ibu, tapi Ibu tetap gigih mengambilkan hasil belajar itu untuk saya.

Rabu, 20 Februari 2013

Masih Mencari Teka Tekimu



Masih mencoba mencari teka-teki yang ku ciptakan sendiri. Mencoba mengorek segala kenangan. Mengorek segala kisah yang sudah tercipta dengan mudahnya. Mencari jalan keluar dari segala permasalahan. Sebenarnya bukanlah permasalahan besar, namun tetap saja dia bernama “permasalahan” yang hanya akan selesai jika kita menemukan solusi.

Kamu dapat memeluk segala harapku, segala kenanganku. Kamu juga pemeluk segala kesakitanku. Kamu juga penyebab senyumku. Dan kamu, adalah bagian dari mimpi-mimpiku.

Denganmu, aku dapat tertawa. Aku dapat merasakan diriku menjadi utuh kembali. Mungkinkah ini cinta? Aku terlalu sulit untuk menemukan jawaban seperti apa cinta yang sesungguhnya. Cinta yang akan membawa kita pada kebahagiaan. Terlalu sulit menemukan jawaban jika tak ada kamu. Aku tak mampu untuk mencarinya. Mungkin denganmu, aku dapat menemukan jawaban, sebenarnya apakah rasa yang sudah kamu tinggalkan ini? Mungkin juga dengan hadirnya kamu kembali, keutuhan ini akan menjadi sebuah keutuhan abadi. Keutuhan yang tak akan hilang setelah kamu mendekat dan memelukku.

Senin, 18 Februari 2013

Surat Keempat Untuk Ibu

Hai ibu. Selamat Pagi. Apa kabar disana?

Ternyata sudah hampir 7 bulan kita tidak berjumpa. Melihat senyuman ibu. Tawa ibu. Nasehat ibu. Saya yakin nantinya kita akan bertemu kembali di Surga Allah. Saling memeluk. Saling menguatkan. Saling mengungkapkan kerinduan. Kita hanya berpisah untuk sementara. Tapi sebenarnya hati kita tak akan pernah berpisah. Sampai kapanpun.

Ibu, rasanya saya ingin menangis. Kerinduan ini sungguh menyakitksn hati. Saya hanya mampu mengungkapkan kerinduan melalui do’a-do’a saja. Tanpa bisa memeluk jasad ibu.

Untuk melihat foto ibu, saya masih belum kuat. Belum tegar. Sebab foto-foto itu membuat saya menangis. Bahkan mendengar orang lain menyebut nama ibu pun saya masih meneteskan air mata. Hal kecil tetapi berarti besar untuk saya.

Minggu, 17 Februari 2013

Kekosongan

Kekosongan adalah suatu hal yang sangat dibenci oleh sebagian orang, bahkan mungkin untuk kebanyakan orang. Kekosongan sangat identik dengan kesendirian, dengan sebuah kesepian. Tak ada kesenangan dan juga tak ada tangisan. Semuanya bagaikan jalan lurus yang tak akan menemukan jalur lain, tikungan, dan yang lainnya. Membosankan.

Dua tahun yang lalu perasaan itu muncul. Saya menciptakan keberanian untuk memiliki rasa terhadap hatinya. Keputusan terberat sebab ternyata kita berbeda.

Entah saya bodoh atau memang saya sudah tak memiliki pikiran yang logis sehingga memilih jalan itu. Jalan dimana saya memilih untuk mendekati dia. Dia membawa semua hal yang saya inginkan. Tawanya bagaikan nyawa untuk saya. Sedihnya bagaikan pelajaran kehidupan untuk saya. Celotehannya bagaikan lukisan indah yang tak akan pernah hilang. Semua begitu sempurna.
Namun ada satu hal yang masih dan akan terus mengganjal. Niat untuk menaruh hati terhadap dia sepertinya masih belum sempurna. Belum sepenuhnya. Terbukti dengan adanya berbagai pemikiran yang muncul. Terutama perihal keyakinan kita. Keyakinan yang tak pernah sama. Begitu berat dan menyesakkan.