Laman

Sabtu, 26 Oktober 2013

Merangkulmu Semampuku

“Gischa begitu baik. Dia manis. Sederhana tapi daya tariknya tak dapat tertutupi begitu saja,” paparnya penuh dengan kebahagiaan yang terpancar dari matanya.

Ada kesakitan saat perlahan kamu membeberkan semua hal tentangnya. Ada kesakitan saat kamu memujanya, terlebih saat kamu menyebut namanya. Bukan aku tapi Gischa . Mengertikah kamu dengan rasaku? Mungkin sebaiknya aku memprioritaskan kamu dibanding aku. Sebaiknya aku mendengarkan segala celotehmu walau bukan tentang aku. Dengan begitu setidaknya bisa disebut aku selalu ada untuk kamu, walau mungkin belum bisa disebut kamu ada untuk aku.

Sebisa mungkin aku membiarkan kesakitan menggerogoti jiwaku, bukan kamu. Biarlah luka tertanam bahkan tumbuh dengan jelas pada rasa yang sudah lama tumbuh terhadap kamu. Biarlah kamu bercerita tentangnya, setidaknya dengan itu aku bisa melihat kamu tersenyum, tertawa, terharu, bahkan memuja perempuan itu. Ya, perempuan yang ada disana. Bukan disebelahmu. Bukan aku.


Minggu, 13 Oktober 2013

Aku Menyebutnya Romi

Diam-diam. Mencoba berusaha sedikit demi sedikit tanpa tahu rasa malu. Tak memperhatikan bisikan negatif dari orang-orang sekitar yang mulai membekukan telinga. Perlahan, perlahan, dan perlahan. Berjalan pelan namun penuh kepastian. Berusaha terlebih dulu tanpa tahu bagaimana nantinya hasil yang akan didapat.

Aku memang bukan yang terbaik. Tapi aku selalu berusaha berposisi menjadi orang yang terbaik, untukmu. Aku memang tak sempurna, tapi dengan ketidaksempurnaan itu, aku menginginkan kamu dapat menjadi pelengkap dan membuat individu ini bisa dikatakan sebagai seseorang yang sempurna.

Berkali-kali putus asa, tapi masih mencoba untuk bangkit. Karena siapa? Karena kamu.

Tubuhku sering terpaku saat melihatmu. Tak mampu bergerak. Aku hanya mampu menunduk, kemudian menangis. Kapan aku dan kamu bisa menjadi kita?

Sebenarnya kamu begitu dekat. Tapi mengapa sangat sulit untuk digapai? Menyentuhmu saja aku tak kuasa. Apalagi jika harus memelukmu. Melihat. Dari jauh, bukan dari dekat. Seperti itulah yang bisa kulakukan.

“Kenapa menangis? Tahukah kamu bahwa sebenarnya aku seperti kamu? Aku juga sering memperhatikanmu, dari jauh. Dan sekarang aku baru berani untuk mendekat.”


Aku menghambur kearahnya. Memeluknya tanpa berani untuk melepaskan. Tak mau kehilangan dia, Romi.

Jumat, 11 Oktober 2013

Titipan Cerita Untuk TELKOM 2012

Kali ini saya hanya ingin sedikit berbagi cerita. Tak jauh-jauh dari kegiatan sehari-hari, teman, dan pastinya kuliah.

2012 kemarin saya menjadi mahasiswa Telekomunikasi di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Nama kampus saya terlalu panjang? Oke, sebut saja PENS atau EEPIS. Tapi walaupun namanya panjang, tak sebanding dengan panjang atau luas kampusnya. Oke, abaikan.

Setelah masuk di TELKOM, saya harus beradaptasi dengan baik disini. Untungnya saya adalah tipikal orang yang mudah bergaul. Jadi tidak begitu sulit untuk menyesuaikan dengan keadaan ataupun lingkungan yang ada. Lanjut lagi, selain kuliah saya disibukkan dengan hal lain, yaitu pengkaderan jurusan. Atau biasa disebut OPP atau OPJ. Awalnya mengikuti kegiatan seperti ini terasa berat. Tapi lambat laun saya mencoba untuk tidak mengeluh dan mencoba melihat dari sisi positif yang ada.

Lama-lama saya merasa nyaman dengan kondisi yang ada. Sudah terbiasa dengan segala kesibukkan yang setiap hari datang. Berbagai kegiatan saya ikuti bersama teman-teman yang lain. Salah satu manfaat kegiatan tersebut adalah agar kami mengenal satu sama lain dalam lingkup angkatan 2012, tetapi tak menutup kemungkinan agar kami bisa lebih dekat dengan kakak kelas. 


Senin, 30 September 2013

Kamu kah itu, Senja ?

Untuk kamu yang setiap hari ku nanti dalam terik senja.
Sering kali aku termenung, menunggu sebuah kepastian dan jawaban. Sedangkan kepastian dan jawaban itu adalah kamu, yang selama ini menghilang tak berbekas tanpa tahu pasti kapan akan kembali. Hanya untuk kamu ketahui, walaupun kamu menghilang tak berbekas, tapi kamu masih belum hilang dari syaraf-syarafku. Ah, bukan! Tepatnya tak akan hilang dari syaraf-syaraf ini.

Setiap sore datang, aku hanya mampu menunggumu di depan teras berteman cahaya sejuk senja di ufuk sana. Mengharapkan sebuah cerita manis dengan kedatanganmu, terpekik bahagia saat melihat kamu perlahan membuka pagar dan menghampiriku.

Senja tak akan pernah berhenti untuk membuat bumi tetap tersenyum
Cahaya jingganya tak akan pernah hilang, selalu memabukkan
Tak akan pernah pudar seperti sebuah perasaan yang tetap ditanam
Dan tak akan ada cerita usai dibalik cahaya senja


Sabtu, 21 September 2013

Bertahankah atau berlarikah?

Semua bermula begitu saja tanpa keinginan yang pasti dari dalam diriku sendiri. Merambat sebagai cerita pahit yang tak ada habisnya. Begitu menyesakkan dan masih belum menjadi sebuah kenikmatan yang pasti. Tak mau pergi apalagi bertahan. Lalu apa?

Sampai saat ini aku masih belum tahu. Bertahankah atau berlarikah? Apakah jawaban itu berada di kamu?
Sebenarnya sudah lama semua perasaan yang tak pasti ini mulai memenuhi setiap sudut dalam hati dan tak pernah terabaikan di setiap inci sel syaraf yang ada. Aku tak mau menyesali semua kerinduan yang kamu ciptakan. Membuatku bertekuk lutut pada perasaan dan hal yang tak pasti. Membuatku menutup mata akan orang lain selain kamu, yang mampu membuatku tetap ada untuk memandangmu. Jadi apakah benar ternyata aku masih bertahan dan bukan berdiri?

Mungkin semua ini bermula dari sebuah kebiasaan yang tak kunjung habis. Kebiasaan itu semakin lama malah semakin bertambah. Sayangnya kebiasaan juga masih tak mampu untuk mengubah garis cerita yang ada. Jadi apa yang harus ku perbuat? Tetap memandang kearahmu tapi tetap tak mampu untuk mendekat?
Dalam setiap cerita selalu ada pertanda. Aku masih percaya akan hal itu. Dan apakah pertanda itu ada untuk aku atau mungkin untuk kita?

Apa mungkin aku terbilang tolol untuk ukuran manusia sedewasa ini? Dewasa atau tidak sepertinya bukan takaran untuk seseorang agar tak dikatakan tolol karena sebuah perasaan. Rasa seperti ini memang akan membuat orang menjadi aneh. Tidak bahagia tapi juga tidak ada rasa sedih. Kemudian apa?

“Jika memang kamu yakin. Bertahanlah!”

“Keinginanmu tak jauh berbeda denganku.”

“Lalu apa yang membuatmu tetap limbung?”

“Aku masih belum begitu yakin. Aku takut pada akhirnya harapanku tak akan terwujud.”

“Aku hanya tak ingin kecewa. Aku takut untuk menumbuhkan perasaan ini lagi. Takut akan lebih menyakitkan jika pada akhirnya semua akan berakhir,”lanjutku.

“Semua keputusan baik atau buruk selalu ada resikonya. Ada baiknya kamu memutuskan untuk bertahan atau berhenti.”

“Sepertinya aku akan memilih untuk bertahan. Tapi hanya bertahan. Aku tak akan bergerak untuk mengejarnya. Tapi juga tak berlari untuk menjauhinya. Biarkan cerita ini mengalir dengan sendirinya.”