Rabu, 26 Juni 2013
Minggu, 23 Juni 2013
11 Bulan
Selamat
malam malaikat cantik yang pernah menemani kehidupanku selama 19 tahun. Apa kabar
disana? Masih bisa melihat kami tersenyum? Ku harap begitu.
Aku ingin
mengenangmu lewat barisan kata ini. Mengenang malam itu, 23 Juni 2012. Malaikat
tahu? Aku tak akan melupakan detik-detik itu.
Malam sebelumnya,
22 Juni 2012 aku menginap di Rumah Sakit Darmo. Menemani dan menjaganya. Sering
kali dia terbangun, terbatuk-batuk karena darah kental yang bersarang di
mulutnya. Hidungnya pun tak pernah hilang dari tetesan-tetesan darah. Jadi terpaksa
hidungnya harus disumbat dengan kain kasa. Begitu menyiksa sepertinya.
Esok paginya
aku pulang. Bergantian dengan adik ibu untuk menjaganya. Tapi kali ini ada yang
berbeda.
“Nanti kamu
jaga lagi kan?”
“Loh, kan
sudah dari kemarin.” Sebenarnya aku ingin menjaganya, tapi aku tipikal orang
yang tidak tega melihar orang sakit.
Sebelumnya aku
diberi tugas oleh kakak ipar ibu. Membeli bayam merah kemudian bayam itu
dijadikan jus. Mungkin itu bisa memberi dampak positif untuknya, Ibu.
Sore
harinya aku berkeliling mencari bayam merah. Cukup sulit memang. Berbagai supermarket
banyak yang tidak mempunyai sayuran berwarna merah itu. Mungkin kebetulan sayurnya
habis, pikirku.
Setelah mencari
bayam tersebut yang akhirnya bisa ku dapatkan, aku memilih untuk tidak pulang
dulu. Mengisi perut lebih baik daripada nanti sakit dan tidak bisa membantunya
serta menemaninya di Rumah Sakit.
Nasi bakar.
Aku masih ingat nasi apa yang ku pesan dengan sahabatku. Dia, salah satu
sahabat yang menemani dan memberiku semangat terlebih saat aku berada di titik
terakhir seperti tanggal 23 Juni 2012.
Bip…
Sebuah
pesan singkat dari salah satu saudaraku.
Kamu jemput tante. Cepet ke rumah sakit.
Ada apa? Wajahku
mulai pucat. Makanan yang sudah aku pesan sudah tak bisa memikat hati.
Sabtu, 08 Juni 2013
Untitled
Lelaki itu masih miliknya.
Wanita yang saat ini berada di hadapaku selalu membagikan
keluh kisahnya saat kami bertemu. Berbagai cerita mengalir begitu saja tanpa
diminta. Cerita mengagumkan, indah, tapi juga menyakitkan. Tapi yang perlu
digaris bawahi sepertinya ceritanya begitu menyakitkan. Begitu membuatku
trenyuh dan merasa bangga memiliki sahabat sepertinya.
Maretha. Wanita luar biasa yang memiliki kesabaran tanpa
batas. Dia mampu tersenyum dalam tangis. Mampu berdiri saat dia benar-benar
terperosok ke dalam kesedihan. Mampu meyakinkan orang lain bahwa sebenarnya dia
masih kuat. Keteguhan hatinya untuk memperjuangkan dan merawat cinta yang telah
dia dapat benar-benar mengagumkan.
“Kenapa kamu masih mampu dan masih mau mempertahankan
dia?”
“Selagi masih ada kesempatan untuk mempertahankan kenapa
tidak?”
Kesempatan. Dia benar-benar menggunakan kesempatan yang
diberikan Tuhan untuknya. Selagi ada waktu. Selagi masih ada kesempatan. Dan
selagi bisa.
Tak jarang dia berkeluh kesah di hadapanku. Bercerita panjang
lebar mengenai lelaki yang telah memiliki hatinya. Bercerita bagaimana lelaki
itu lebih sering terlihat cuek dibanding perhatian. Tapi perlu kita ketahui,
cuek yang dimiliki seorang lelaki bukan berarti bahwa dia tidak memperhatikan
kita. (mungkin) dengan cueknya, dia memperhatikan wanita lebih dari yang kita
ketahui.
Selasa, 04 Juni 2013
Menepi Untuk Berjalan Kembali
Memilih satu
dari sekian banyak pilihan bukanlah perkara mudah. Berbagai pertimbangan harus
dipikirkan dengan baik jika tak ingin terjadi suatu keburukan yang tak
diinginkan.
Tak terkecuali
menjatuhkan pilihanku ke kamu. Aku harus berpikir matang terlebih dahulu
sebelum akhirnya mulai membangun perasaan yang begitu besar terhadapmu. Aku harus
menempuh proses yang sangat panjang. Menjadikan semua proses itu bagian dari
semua perjalananku.
Dalam suatu
proses tak selalu ada hal yang menyenangkan, tetapi ada juga berbagai hal yang sangat
tak kita inginkan muncul begitu saja tanpa mau permisi terlebih dahulu. Sampai saat
ini, aku masih menempuh berbagai proses itu. Aku masih merasakan bagian dari proses
yang sangat tak ingin aku temui. Kendala. Kesakitan. Sebuah pengharapan yang
sampai saat ini (mungkin) masih belum diketahui olehnya.
Kamu tahu? Atau
malah kamu tidak tahu? Ah! Mungkin benar kamu memang tak akan tahu. Jadi tolong
sebentar saja kamu coba lihat kesini. Ya! Kesini. Kearahku. Hanya sebentar. Jika
memang iya, ku harap kamu akan berbalik. Berbalik dan berlari ke arahku untuk menggapaiku,
untuk meraihku. Menggapaiku yang seakan-akan telah luruh bersamaan dengan semua
proses tersebut.
Jumat, 17 Mei 2013
Kemarilah! Aku Disini
Kamu mungkin
tak akan pernah tahu bahwa aku disini. Menunggumu di seberang jalan tanpa mau
melangkap kembali, untuk mencapaimu. Aku hanya mampu menikmati semilir angin,
menikmati rakitan takdirNya, tanpa pernah tahu kapan aku harus benar-benar
bangkit, berlari dan menjangkaumu.
Apakah kamu
batu? Apa kamu hanya berpura-pura menjadi batu? Tanpa pernah tahu aku adalah
air yang ingin melembutkanmu. Menjadikanmu lebih peka dengan sekitarmu.
Apa kamu
buta? Atau sengaja membutakan mata dan batinmu? Kemarilah. Aku akan
menunjukkanmu beberapa jalan yang mungkin akan membuat keadaan lebih baik. Membuat
perasaanmu dan perasaanku menjadi satu. Lihatlah kemari! Ada aku yang selalu
memperhatikanmu. Secara langsung maupun tak langsung. Selalu mengharapkanmu tanpa
pernah tahu apakah kamu juga akan mengharapkanku.
Entahlah! Bagaimana
seharusnya aku menyampaikan pesan ini? Cobalah kemari! Mataku mampu
menyampaikan semua pesan yang tak bisa ku tuliskan, apalagi ku ungkapkan. Mataku
akan berbicara, dari hati.
Langganan:
Postingan (Atom)